Setelah menembus kemacetan dan hujan, saya
ditemani seorang kerabat akhirnya sampai juga di sebuah cafe di daerah Kemang
Jakarta, tempat di mana Bangkutaman akan
meluncurkan album Ode Buat Kota.
Dengan ragu-ragu kami, terutama saya yang asing dengan gigs Jakarta, memasuki
cafe itu. Beberapa langkah dari pintu masuk tampak lapak yang menggelar beberapa marchendise
dari Bangkutaman. Selain itu juga ada
funzine dan CD. Sebelum sampai di
panggung, kami melewati koridor yang kanan kirinya terdapat beberapa kursi dan
meja. Beberapa orang tanpak sedang ngobrol, merokok, dan minum bir di koridor
tersebut. Tentu saja, dari beberapa orang tersebut lebih banyak yang lesehan
daripada duduk manis di kursi.
Setelah melewati koridor, akhirnya sampai
juga di TKP. Beruntung sekali kami tidak datang terlambat. Masih ada beberapa
menit untuk mengamati venue. Di sana
tampak panggung yang tidak terlalu tinggi yang di depannya terdapat arena yang
lumayan luas buat penonton joget-joget dan beberapa pasang meja kursi yang
kebanyakan terbuat dari kayu. Venue
juga dilengkapi dengan big screen bertuliskan ’Jangan Marah Record, Ode Buat
Kota Bangkutaman’ Ruangan ini
berlantai dua. Jika ingin menikmati pertunjukan dengan lebih lengang, penonton
bisa naik ke atas. Tentu lantai atas tidak seluas arena pertunjukan di lantai
satu.
Sepertinya pertunjukan sudah hampir
dimulai. Beberapa orang mulai meringsek ke depan, mencari tempat yang strategis
agar bisa memotret, sing a long, dan
siapa tahu juga dapat lemparan kaos dari sponsor. Begitu juga dengan para
personil Bangkutaman yang sudah
berada di bibir panggung. Meskipun ini adalah acara mereka, tapi
entahlah...mereka seperti tidak terbebani. Mereka asyik ngobrol, jalan kesana
kemari memenuhi panggilan teman, ketawa-ketawa. Tidak berapa lama pembawa acara
naik panggung disambut sorak sorai penonton. Beberapa orang memanggil sebuah
nama yang saya yakin bukan nama si pembawa acara tapi membuat pembawa acara malu-malu
(hedehh...). Si pembawa acara menyebutkan beberapa band yang akan tampil
sebelum Bangkutaman naik di atas
panggung. Mungkin itu yang disebut band pembuka. Dengan sound yang terbilang sederhana untuk sebuah lounching album, silih
berganti band pembuka tampil. Diantara beberapa band pembuka tersebut ada yang
mengawali lagu dengan membacakan puisi. Kata-kata dalam puisi tersebut tidak
terlalu jelas terdengar karena tiap satu bait selesai dibacakan, penonton ada
yang bertepuk tanganlah, suit-suitlah...hahahhaa... Iseng-iseng mataku mencari
sosok para personil Bangkutaman (bangaimanapun
juga saya datang ke tempat ini untuk penelitiankan?) Mereka masih asyik
mengobrol dengan beberapa orang. Acum ada di belakang panggung, Irwin membaur
dengan penonton, dan Dedyk duduk di bibir panggung. Beberapa saat kemudian Irwin
berjalan menembus kerumunan penonton menuju samping panggung. Mereka bertiga
berkumpul di samping panggung dan bersiap-siap.
Waktu sudah menunjukan jam 10 malam ketika Bangkutaman naik panggung. Suasana semakin riuh, penonton semakin
meringsek ke depan. Saya tidak mau kalah dong.
Saya berusaha maju ke depan demi dapat menikmati Bangkutaman tidak hanya secara audio, tetapi juga secara visual. Selesai
lagu pertama, Acum memberikan ’kata sambutan’ yang ditutup dengan tepuk tangan
dan siulan dari penonton. Seorang penonton berteriak menawarkan sebotol bir
untuk Acum, Acum menanggapi itu dengan senyum (cieeeeee). Bangkutaman terus menggulirkan lagunya. Sampai pada lagu keempat,
pertunjukan itu diselingi dengan kuis berhadiah kaos dari sponsor. Usai kuis
berhadiah, Bangkutaman kembali bersenandung. Satelit, burn teh disco, catch me
when I fall adalah beberapa lagu dari Bangkutaman yang saya hafal yang rupanya
mereka mainkan malam itu. Suara gitar Irwin berpadu dengan senandung hamonika
milik Acum membuat malam itu benar-benar milik Bangkutaman. Akhirnya Ode buat
Kota berkumandang, koor masal selalu terdengar mengiringi lagu yang
menceritakan soal kota itu. Entah jam berapa keriaan berakhir. Saya
meninggalkan venue tepat pukul 12
malam sesuai janji untuk tidak pulang terlalu pagi (ini Jakarta, nak). Sebelum
beranjak, niat untuk membeli beberapa merchandise saya penuhi. Seandainya tidak
ada jam malam, dan pertunjukan itu terjadi di Jogja, saya pasti akan menonton
hingga usai...sayang sekali...

