Ehm...sesuai
dengan judulnya, tulisan ini akan bercerita tentang pengalaman pertama saya
nonton konser musik jazz. Seingat saya sih memang ini kali pertama nonton jazz.
Sebenarnya ada plus plusnya juga sih nih konser itu...Pertama kali nonton jazz
yang digelar oleh salah satu kampus ternama di Yogyakarta plus bintang-bintang
tamu yang juga nggak kalah kondangnya..hem...mungkin di situ nilai jualnya sehingga
tiketnya juga yaaaaa…gitu deh hehehhe…
Pertama
kali melihat publikasi tersebut, saya memprediksi bahwa acara akan berlangsung
seru, dan pasti banyak ilmu yang dapat diambil oleh penonton. Mungkin semacam
klinik musik yang dikemas dengan menghibur, sehingga orang-orang yang datang pun
tidak perlu terlalu mengernyitkan dahi untuk memahami genre musik yang katanya
cukup njlimet tersebut. Tapi, belum juga mendapat hiburan, justru dahi saya
yang mengerut karena untuk mendapatkan tiketnya yahhh....cukup ruwet. Ruwetnya
adalah begitu sampai di salah satu tempat yang ditunjuk sebagai tempat
penjualan tiket, saya disodori oleh pemilihan kelas-kelas penonton. ada kelas
gold, silver trus apalagi ya...saya lupa. Lebih dari tiga kelas pokoknya. Tiap
kelas menempati posisi kursi yang berbeda dengan tawaran harga yang berbeda
juga. Oke, akhirnya saya memilih kelas silver dengan harga 100 ribu. Menurut saya,
harga-harga tiket yang ditawarkan cukup wow sebenarnya untuk kalangan
masyarakat jogja, terutama buat saya -saya pernah mengeluarkan uang yang sama
besar untuk membeli tiket sebuah acara musik metal yang pengisi acaranya ada 26
band-. Tapi okelah (mungkin) beginilah nonton jazz, -yang katanya genre musik
untuk kelas atas-. Sampai disini secara tidak sadar saya sudah memberikan
ekspektasi lebih terhadap acara jazz yang akan saya tonton. Jelas, bintang
tamunya orang-orang yang mumpuni dibidangnya, diselenggarakan oleh pihak yang
populer, dan tentu saja tiket yang yaaa...lumayan harus nguras tabungan.
Dan,
tibalah hari H. Acara mulai jam setengah 8. Karena nggak mau rugi maka saya
tidak akan melewatkan pertunjukan tersebut barang satu menit pun. Tapi, belum
juga nonton, saya sudah dikecewakan oleh pihak panitia terutama yang ngurusi
soal parkir. Kejadiannya, waktu itu saya dan sodara saya naik motor. Kami
kebingungan mencari tempat parker, jadi bertanyalah kami ke panitia yang
standby di depan pintu gerbang tempat pertunjukan berlangsung. Panitia di situ
bilang parkir untuk motornya penuh, dan dia tidak tau alternatif tempat parkir
sepeda motor yang lain. What???? Bagaimana mungkin sebuah event yang presticious
mempunyai tim panitia yang seperti ini?. Apa panitia lupa bahwa sebagian besar
penduduk jogja adalah pengendara sepeda motor? Oh…mungkin pihak panitia mengira
bahwa yang mampu membeli tiket pertunjukan adalah orang-orang bermobil….baiklah…akhirnya
dengan kebaikan salah satu penjual durian yang berjualan di depan gedung
pertunjukan tersebut, kami bisa memarkir motor butut kami. Setelah memarkir
motor dan menyeberang jalan, dengan tergesa kami (saya dan sodara) masuk ke
gedung pertunjukan. Ehm..lumayan oke juga kerja panitia di sini karena mereka
memberikan petunjuk-petunjuk lokasi di mana penonton bisa mendapatkan kursi
sesuai yang tertera di tiket. Begitupun dengan saya, tidak lama saya
mendapatkan kursi yang sudah saya beli. Damn!!! jauhnya kursi saya dari
panggung…tapi tidak apa, sedikitterbantu dengan dua buah bigscreen. Ok no problem…pertunjukan
pun dimulai.
Jopie
item dan Audy muncul sebagai pembuka. Dua buah instrument jazz dimainkan. Saya tidak
begitu mengerti mengenai teknik-teknik bermain gitar jadi yaaa menurut saya
yang dimainkan Jopie Item cukup rumit. Tidak berapa lama, penyanyi idola saya,
Audy muncul menyanyikan lagu milik Frente, Cuscutlan. Yayyyyyy….lagu itu pernah
dibawakan Item’s family di Radio Show jadi ya sedikit-sedikit saya tahulah
tentang lagu itu dan bisa nyanyi bareng. Dengan kostum serba hitam dan rambut
yang terurai, Audy menyapa ramah para penonton yang sepertinya tidak terlalu
memenuhi kursi penonton. Kursi penonton banyak yang kosong. Hmmmm….belum lima
menit saya memikirkan soal kursi penontong yang kosong, tiba-tiba saya
mendengar suara orang mengunyah camilan. Benar…ternyata yang mengunyah camilan
itu penonton di sebelah saya. Saya lirik sebentar. Oh…sepasang muda-mudi masa
kini…tapi…what…itu dua bungkus semacam chiki-chikian ada di sebelah si pemudi…mau
nonton konser atau mau nonton bioskop, mbak??? Suara “kresek…kresek” nya itu
lho ganggu banget…Eits…belum sampai di situ, saya kembali terheran-heran ketika
banyak penonton yang datang terlambat namun dengan santainya mereka berjalan
dan duduk di depan. “Oh, itu orang-orang kelas atas” batin saya. Setelah Audy
dan ayahnya tampil, giliran Trisum yang sukses membuat saya misuh-misuh. Gimana
nggak misuh-misuh, bagi saya Trisum bermain sangat cantik. Jari-jari mereka
mungkin sama lincahnya dengan pianis dan sama lentiknya dengan penari. Tidak
terdefinisikanlah pokoknya…Kalau tidak salah Trisum memainkan 5 lagu instrument
yang panjang-panjang dan ruwet. Setelah Trisum undur diri dari hadapan
penonton, tiba-tiba penonton diminta maju oleh salah satu penonton yang nampaknya
salah satu pembesar institusi tertentu (karena si oknum tersebut memakai kemeja
batik rapid an celana kain).Semua penonton berebutan maju termasuk saya. Saya ingin
melihat Kahitna lebih dekat meskipun saya ingin menonton pertunjukan dari awal
secara lebih dekat. “Tapi lumayanlah meski Cuma dapat Kahitna doing”, begitu
batin saya. Giliran band Kahitna. Nahhhhhh ini….saya jadi ingat beberapa tahun
lalu ada tayangan Tembang Kenangan di Indosiar..kenapa saya mendadak ingat? Karena
lagu-lagu yang Kahitna bawakan membuat saya teringat dengan kenangan-kenangan
zaman cinta monyet dulu. Hampir seluruh lagu yang dibawakan Kahitna mengiring
perjalanan cinta monyet saya hahahhahaha…Namun Kahitna tetaplah Kahitna yang
sama memikatnya dengan Kahitna 20 tahun yang lalu. Andai dia tahu, adalah salah
satu judul lagu dari Kahitna yang membuat saya histeris…hahaha…dan hampir
sepanjang Kahitna memainkan lagu-lagunya, penonton ikut bernyanyi juga termasuk
saya..
Hemmmmmm…untuk refleksi, pertama, ini
memang pertama kali saya nonton konser musik jazz. Entahlah, mungkin ada konser
musik jazz elit dan konser musik jazz tidak elit. Jika memang demikian,
tampaknya saya menonton konser musik jazz yang elit. Hal tersebut ditunjukan
dengan yaaaaa….harga tiket yang selangit, petinggi-petinggi yang datang (Ada
Roy Suryo juga). Namun elit di sini tampaknya hanya sekedar menunjukan kelas
penonton secara materi dan belum menunjukan esensi musik jazz itu sendiri. Sepengetahuan
saya sih, musik jazz justru berasal dari masyarakat kelas bawah. Pada saat itu
musik jazz digunakan untuk melawan dominasi elit yang mengadakan
pertunjukan-pertunjukan di gedung-gedung, sedangkan awal kemunculan jazz ada di
bawah kolong-kolong jembatan, sepanjang trotoar, dan di jalanan. Jazz pada
tahun-tahun belakangan ini sudah dikomersilkan. Ketakutan saya adalah jika
dunia musik jazz seperti ini terus, maka generasi di bawah saya akan memberikan
image bahwa jazz hanya pantas ditonton oleh masyarakat kelas atas. Jika kondisinya
sudah demikian, perlahan esensi jazz menguap. Kedua, dari buku-buku atau
majalah-majalah yang sering say abaca, bahwa elemen penting bermusik selain
skill adalah Root, character, attitude. Tiga komponen tersebut nampaknya tidak
cukup jika melihat kegaek’an pengisi-pengisi acara dalam konser jazz tersebut. Elemen
lain yang saya lihat dari pengisi-pengisi acara tersebut adalah loyalitas dan
passion yang tinggi terhadap musik. Mereka justru menghidupi musik, dan bukan
musik yang menghidupi mereka. Saya semakin yakin bahwa kalau bermain musik itu
sama dengan belajar, tidak ada batasan umur. Seorang pegawai bisa menentukan
atau ditentukan kapan dia pension, tapi seorang musisi tidak bisa bisa
ditentukan atau menentukan kapan dirinya akan pension karena memang tidak ada
masa pension bagi seorang yang menghidupi musik. Selain itu, kita nggak
perlulah lebay, sok berdandan musisi untuk menunjukan diri bahwa “gue anak band”
misalnya. Justru musik nggak butuh diperlakukan seperti itu. Liat aja,
orang-orang yang jagoan musik kan malah rendah hati dan nggak sok menunjukan
diri sebagai musisi. Ehm…kadang saya berpikir jangan-jangan musik itu sudah merasuk
dalam diri si musisi seperti agama. Cukup diri si musisi dan musik itu sendiri
yang tahu semusikal dan secinta apa diri si musisi itu terhadap musik yang
dihidupi….entahlah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar