Kamis, 28 Juni 2012

Menonton Bangkutaman


Setelah menembus kemacetan dan hujan, saya ditemani seorang kerabat akhirnya sampai juga di sebuah cafe di daerah Kemang Jakarta, tempat di mana Bangkutaman akan meluncurkan album Ode Buat Kota. Dengan ragu-ragu kami, terutama saya yang asing dengan gigs Jakarta, memasuki cafe itu. Beberapa langkah dari pintu masuk tampak lapak yang menggelar beberapa marchendise dari Bangkutaman. Selain itu juga ada funzine dan CD. Sebelum sampai di panggung, kami melewati koridor yang kanan kirinya terdapat beberapa kursi dan meja. Beberapa orang tanpak sedang ngobrol, merokok, dan minum bir di koridor tersebut. Tentu saja, dari beberapa orang tersebut lebih banyak yang lesehan daripada duduk manis di kursi.
Setelah melewati koridor, akhirnya sampai juga di TKP. Beruntung sekali kami tidak datang terlambat. Masih ada beberapa menit untuk mengamati venue. Di sana tampak panggung yang tidak terlalu tinggi yang di depannya terdapat arena yang lumayan luas buat penonton joget-joget dan beberapa pasang meja kursi yang kebanyakan terbuat dari kayu. Venue juga dilengkapi dengan big screen bertuliskan ’Jangan Marah Record, Ode Buat Kota Bangkutaman’ Ruangan ini berlantai dua. Jika ingin menikmati pertunjukan dengan lebih lengang, penonton bisa naik ke atas. Tentu lantai atas tidak seluas arena pertunjukan di lantai satu.
Sepertinya pertunjukan sudah hampir dimulai. Beberapa orang mulai meringsek ke depan, mencari tempat yang strategis agar bisa memotret, sing a long, dan siapa tahu juga dapat lemparan kaos dari sponsor. Begitu juga dengan para personil Bangkutaman yang sudah berada di bibir panggung. Meskipun ini adalah acara mereka, tapi entahlah...mereka seperti tidak terbebani. Mereka asyik ngobrol, jalan kesana kemari memenuhi panggilan teman, ketawa-ketawa. Tidak berapa lama pembawa acara naik panggung disambut sorak sorai penonton. Beberapa orang memanggil sebuah nama yang saya yakin bukan nama si pembawa acara tapi membuat pembawa acara malu-malu (hedehh...). Si pembawa acara menyebutkan beberapa band yang akan tampil sebelum Bangkutaman naik di atas panggung. Mungkin itu yang disebut band pembuka. Dengan sound yang terbilang sederhana untuk sebuah lounching album, silih berganti band pembuka tampil. Diantara beberapa band pembuka tersebut ada yang mengawali lagu dengan membacakan puisi. Kata-kata dalam puisi tersebut tidak terlalu jelas terdengar karena tiap satu bait selesai dibacakan, penonton ada yang bertepuk tanganlah, suit-suitlah...hahahhaa... Iseng-iseng mataku mencari sosok para personil Bangkutaman (bangaimanapun juga saya datang ke tempat ini untuk penelitiankan?) Mereka masih asyik mengobrol dengan beberapa orang. Acum ada di belakang panggung, Irwin membaur dengan penonton, dan Dedyk duduk di bibir panggung. Beberapa saat kemudian Irwin berjalan menembus kerumunan penonton menuju samping panggung. Mereka bertiga berkumpul di samping panggung dan bersiap-siap.
Waktu sudah menunjukan jam 10 malam ketika Bangkutaman naik panggung. Suasana semakin riuh, penonton semakin meringsek ke depan. Saya tidak mau kalah dong. Saya berusaha maju ke depan demi dapat menikmati Bangkutaman tidak hanya secara audio, tetapi juga secara visual. Selesai lagu pertama, Acum memberikan ’kata sambutan’ yang ditutup dengan tepuk tangan dan siulan dari penonton. Seorang penonton berteriak menawarkan sebotol bir untuk Acum, Acum menanggapi itu dengan senyum (cieeeeee). Bangkutaman terus menggulirkan lagunya. Sampai pada lagu keempat, pertunjukan itu diselingi dengan kuis berhadiah kaos dari sponsor. Usai kuis berhadiah, Bangkutaman kembali bersenandung. Satelit, burn teh disco, catch me when I fall adalah beberapa lagu dari Bangkutaman yang saya hafal yang rupanya mereka mainkan malam itu. Suara gitar Irwin berpadu dengan senandung hamonika milik Acum membuat malam itu benar-benar milik Bangkutaman. Akhirnya Ode buat Kota berkumandang, koor masal selalu terdengar mengiringi lagu yang menceritakan soal kota itu. Entah jam berapa keriaan berakhir. Saya meninggalkan venue tepat pukul 12 malam sesuai janji untuk tidak pulang terlalu pagi (ini Jakarta, nak). Sebelum beranjak, niat untuk membeli beberapa merchandise saya penuhi. Seandainya tidak ada jam malam, dan pertunjukan itu terjadi di Jogja, saya pasti akan menonton hingga usai...sayang sekali...

Senin, 04 Juni 2012

Pertama nonton jazz...


Ehm...sesuai dengan judulnya, tulisan ini akan bercerita tentang pengalaman pertama saya nonton konser musik jazz. Seingat saya sih memang ini kali pertama nonton jazz. Sebenarnya ada plus plusnya juga sih nih konser itu...Pertama kali nonton jazz yang digelar oleh salah satu kampus ternama di Yogyakarta plus bintang-bintang tamu yang juga nggak kalah kondangnya..hem...mungkin di situ nilai jualnya sehingga tiketnya juga yaaaaa…gitu deh hehehhe… 
Pertama kali melihat publikasi tersebut, saya memprediksi bahwa acara akan berlangsung seru, dan pasti banyak ilmu yang dapat diambil oleh penonton. Mungkin semacam klinik musik yang dikemas dengan menghibur, sehingga orang-orang yang datang pun tidak perlu terlalu mengernyitkan dahi untuk memahami genre musik yang katanya cukup njlimet tersebut. Tapi, belum juga mendapat hiburan, justru dahi saya yang mengerut karena untuk mendapatkan tiketnya yahhh....cukup ruwet. Ruwetnya adalah begitu sampai di salah satu tempat yang ditunjuk sebagai tempat penjualan tiket, saya disodori oleh pemilihan kelas-kelas penonton. ada kelas gold, silver trus apalagi ya...saya lupa. Lebih dari tiga kelas pokoknya. Tiap kelas menempati posisi kursi yang berbeda dengan tawaran harga yang berbeda juga. Oke, akhirnya saya memilih kelas silver dengan harga 100 ribu. Menurut saya, harga-harga tiket yang ditawarkan cukup wow sebenarnya untuk kalangan masyarakat jogja, terutama buat saya -saya pernah mengeluarkan uang yang sama besar untuk membeli tiket sebuah acara musik metal yang pengisi acaranya ada 26 band-. Tapi okelah (mungkin) beginilah nonton jazz, -yang katanya genre musik untuk kelas atas-. Sampai disini secara tidak sadar saya sudah memberikan ekspektasi lebih terhadap acara jazz yang akan saya tonton. Jelas, bintang tamunya orang-orang yang mumpuni dibidangnya, diselenggarakan oleh pihak yang populer, dan tentu saja tiket yang yaaa...lumayan harus nguras tabungan.
Dan, tibalah hari H. Acara mulai jam setengah 8. Karena nggak mau rugi maka saya tidak akan melewatkan pertunjukan tersebut barang satu menit pun. Tapi, belum juga nonton, saya sudah dikecewakan oleh pihak panitia terutama yang ngurusi soal parkir. Kejadiannya, waktu itu saya dan sodara saya naik motor. Kami kebingungan mencari tempat parker, jadi bertanyalah kami ke panitia yang standby di depan pintu gerbang tempat pertunjukan berlangsung. Panitia di situ bilang parkir untuk motornya penuh, dan dia tidak tau alternatif tempat parkir sepeda motor yang lain. What???? Bagaimana mungkin sebuah event yang presticious mempunyai tim panitia yang seperti ini?. Apa panitia lupa bahwa sebagian besar penduduk jogja adalah pengendara sepeda motor? Oh…mungkin pihak panitia mengira bahwa yang mampu membeli tiket pertunjukan adalah orang-orang bermobil….baiklah…akhirnya dengan kebaikan salah satu penjual durian yang berjualan di depan gedung pertunjukan tersebut, kami bisa memarkir motor butut kami. Setelah memarkir motor dan menyeberang jalan, dengan tergesa kami (saya dan sodara) masuk ke gedung pertunjukan. Ehm..lumayan oke juga kerja panitia di sini karena mereka memberikan petunjuk-petunjuk lokasi di mana penonton bisa mendapatkan kursi sesuai yang tertera di tiket. Begitupun dengan saya, tidak lama saya mendapatkan kursi yang sudah saya beli. Damn!!! jauhnya kursi saya dari panggung…tapi tidak apa, sedikitterbantu dengan dua buah bigscreen. Ok no problem…pertunjukan pun dimulai.
Jopie item dan Audy muncul sebagai pembuka. Dua buah instrument jazz dimainkan. Saya tidak begitu mengerti mengenai teknik-teknik bermain gitar jadi yaaa menurut saya yang dimainkan Jopie Item cukup rumit. Tidak berapa lama, penyanyi idola saya, Audy muncul menyanyikan lagu milik Frente, Cuscutlan. Yayyyyyy….lagu itu pernah dibawakan Item’s family di Radio Show jadi ya sedikit-sedikit saya tahulah tentang lagu itu dan bisa nyanyi bareng. Dengan kostum serba hitam dan rambut yang terurai, Audy menyapa ramah para penonton yang sepertinya tidak terlalu memenuhi kursi penonton. Kursi penonton banyak yang kosong. Hmmmm….belum lima menit saya memikirkan soal kursi penontong yang kosong, tiba-tiba saya mendengar suara orang mengunyah camilan. Benar…ternyata yang mengunyah camilan itu penonton di sebelah saya. Saya lirik sebentar. Oh…sepasang muda-mudi masa kini…tapi…what…itu dua bungkus semacam chiki-chikian ada di sebelah si pemudi…mau nonton konser atau mau nonton bioskop, mbak??? Suara “kresek…kresek” nya itu lho ganggu banget…Eits…belum sampai di situ, saya kembali terheran-heran ketika banyak penonton yang datang terlambat namun dengan santainya mereka berjalan dan duduk di depan. “Oh, itu orang-orang kelas atas” batin saya. Setelah Audy dan ayahnya tampil, giliran Trisum yang sukses membuat saya misuh-misuh. Gimana nggak misuh-misuh, bagi saya Trisum bermain sangat cantik. Jari-jari mereka mungkin sama lincahnya dengan pianis dan sama lentiknya dengan penari. Tidak terdefinisikanlah pokoknya…Kalau tidak salah Trisum memainkan 5 lagu instrument yang panjang-panjang dan ruwet. Setelah Trisum undur diri dari hadapan penonton, tiba-tiba penonton diminta maju oleh salah satu penonton yang nampaknya salah satu pembesar institusi tertentu (karena si oknum tersebut memakai kemeja batik rapid an celana kain).Semua penonton berebutan maju termasuk saya. Saya ingin melihat Kahitna lebih dekat meskipun saya ingin menonton pertunjukan dari awal secara lebih dekat. “Tapi lumayanlah meski Cuma dapat Kahitna doing”, begitu batin saya. Giliran band Kahitna. Nahhhhhh ini….saya jadi ingat beberapa tahun lalu ada tayangan Tembang Kenangan di Indosiar..kenapa saya mendadak ingat? Karena lagu-lagu yang Kahitna bawakan membuat saya teringat dengan kenangan-kenangan zaman cinta monyet dulu. Hampir seluruh lagu yang dibawakan Kahitna mengiring perjalanan cinta monyet saya hahahhahaha…Namun Kahitna tetaplah Kahitna yang sama memikatnya dengan Kahitna 20 tahun yang lalu. Andai dia tahu, adalah salah satu judul lagu dari Kahitna yang membuat saya histeris…hahaha…dan hampir sepanjang Kahitna memainkan lagu-lagunya, penonton ikut bernyanyi juga termasuk saya..
            Hemmmmmm…untuk refleksi, pertama, ini memang pertama kali saya nonton konser musik jazz. Entahlah, mungkin ada konser musik jazz elit dan konser musik jazz tidak elit. Jika memang demikian, tampaknya saya menonton konser musik jazz yang elit. Hal tersebut ditunjukan dengan yaaaaa….harga tiket yang selangit, petinggi-petinggi yang datang (Ada Roy Suryo juga). Namun elit di sini tampaknya hanya sekedar menunjukan kelas penonton secara materi dan belum menunjukan esensi musik jazz itu sendiri. Sepengetahuan saya sih, musik jazz justru berasal dari masyarakat kelas bawah. Pada saat itu musik jazz digunakan untuk melawan dominasi elit yang mengadakan pertunjukan-pertunjukan di gedung-gedung, sedangkan awal kemunculan jazz ada di bawah kolong-kolong jembatan, sepanjang trotoar, dan di jalanan. Jazz pada tahun-tahun belakangan ini sudah dikomersilkan. Ketakutan saya adalah jika dunia musik jazz seperti ini terus, maka generasi di bawah saya akan memberikan image bahwa jazz hanya pantas ditonton oleh masyarakat kelas atas. Jika kondisinya sudah demikian, perlahan esensi jazz menguap. Kedua, dari buku-buku atau majalah-majalah yang sering say abaca, bahwa elemen penting bermusik selain skill adalah Root, character, attitude. Tiga komponen tersebut nampaknya tidak cukup jika melihat kegaek’an pengisi-pengisi acara dalam konser jazz tersebut. Elemen lain yang saya lihat dari pengisi-pengisi acara tersebut adalah loyalitas dan passion yang tinggi terhadap musik. Mereka justru menghidupi musik, dan bukan musik yang menghidupi mereka. Saya semakin yakin bahwa kalau bermain musik itu sama dengan belajar, tidak ada batasan umur. Seorang pegawai bisa menentukan atau ditentukan kapan dia pension, tapi seorang musisi tidak bisa bisa ditentukan atau menentukan kapan dirinya akan pension karena memang tidak ada masa pension bagi seorang yang menghidupi musik. Selain itu, kita nggak perlulah lebay, sok berdandan musisi untuk menunjukan diri bahwa “gue anak band” misalnya. Justru musik nggak butuh diperlakukan seperti itu. Liat aja, orang-orang yang jagoan musik kan malah rendah hati dan nggak sok menunjukan diri sebagai musisi. Ehm…kadang saya berpikir jangan-jangan musik itu sudah merasuk dalam diri si musisi seperti agama. Cukup diri si musisi dan musik itu sendiri yang tahu semusikal dan secinta apa diri si musisi itu terhadap musik yang dihidupi….entahlah…