Rabu, 19 Oktober 2011

Rasanya......mungkin seperti patah hati

ketika seseorang bertanya apa obat patah hati paling mujarab?, aku selalu bilang kalau potong rambut adalah obat patah hati paling mujarab. Lalu, apakah kali ini aku harus potong rambut juga? padahal aku tidak sedang patah hati....Lho??? Lalu???

patah hati sih tidak, tapi rasanya seperti sesak ketika patah hati. untuk saat ini sih. tapi entah untuk esok hari. ehm....anggap saja aku telah menjalin hubungan selama satu tahun lebih dan saat ini hubungan itu sama seperti hubunganku dengan teman-teman yang lain. Dulu istimewa dan sekarang tidak ada yang istimewa. Yah...gimana sih rasanya kalau dulu pernah begitu dekat tapi sekarang menjadi biasa saja...yah...seperti itulah...
sudah sih...alasan sudah dikemukakan. Tapi banyak yg berspekulasi yang justru bukan dari aku. pikiranku hanya sederhana, ketika ada pertemuan di situ juga ada perpisahan. so simple kan...tapi entahlah...spekulasi ini dan itu sih sebenarnya masuk akal juga, tapi apa iya aku maksa???
ketika ditolak, apakah harus maksa,"tolong dong jangan ditolak...". masa' iya ngemis2 gitu???

so, apapun yg terjadi....hubungan ini memang bukan hubungan percintaan, tapi perpisahan ini rasanya seperti putus cinta. dimana-mana putus cinta itu rasanya sama. dan aku nggak harus bilang gimana rasanya kan????

ehm....terima kasih telah mencintai, dan bersamaku....

Sabtu, 15 Oktober 2011

Tahu nggak????

"Tau nggak,diam-diam aku menatapmu,walau dari jauh. Diam-diam aku juga memahamimu,walau dalam diamku"
"Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?"
"Buat apa?"
"Ya biar aku tahu."
"Sengaja kok. Aku akan bilang seperti ini setelah aku mengerti kamu"
"Maksudnya?"
"Ya...tahu kamu itu orangnya seperti apa. Aku nggak mau dibilang ngerayu"
"Terus sekarang ini namanya apa?"
"Ehm...apa ya?. Terserah kamu sih mau beranggapan aja. Aku cuma mau jujur aja"
"Udah, itu aja?"
"Memangnya kamu mau yang lain?"
"Yang lain apa maksudnya?"
"Lho, mana ku tahu. Maksud kamu bilang 'udah aja' tadi apa?"
"Maksudku, udah...kamu cuma pengen bilang itu aja?"
"Iya"
"Yang lainnya?"
"Belum tahu. Memangnya penting ya?"
"Nggak tahu juga"

Mereka akhirnya mampu mencairkan suasana. Mengubah bisu bertahun-tahun terjadi menjadi ceria.
Ceria yang hanya mereka tahu.
Yang lainnya? tak perlu dijawab.
Biarkan semua menjadi warna-warni yang hanya mereka sendiri yang tahu cara mewarnainya...

Tentang dia di sana

Tentang dia di sana,
semoga baik-baik saja.
akh....pasti begitu adanya
karena telah berada di tempat istimewa.

tempat tanpa duka,
tanpa tipu muslihat dunia,
tanpa senyum yang hanya di muka,
tanpa sesuatu yang tak lagi fana.

apapun yang terjadi di sini
mungkin dia mengetahui
tentang rindu
dan doa
yang terurai bagai nada

tentang dia di sana
tentang kenangan sepanjang masa
meski raga
tak tampak oleh mata...

Amplop berwarna Jingga

kadang, aku juga ingin normal seperti mereka.
tertawa ketika bahagia dan menangis karena lara.
menjalani kehidupan bagaikan garis lurus yang tak putus.
menerima takdir seperti jalan beraspal mulus,

namun aku memilih mabuk, ketika semua waras
mabuk akan kegilaan hidupku sendiri
lebih memilih berbelok ketika semua jalan terus

kini aku terlanjur tak serupa
dan pasti tak pernah sama.
tawaku belum tentu bahagiaku, begitu pula tangisku

aku memilih menikmati kegilaan ini dalam waktu lama
menjalani semua yang tak semestinya

***
aku kemudian melipat lembaran ini. menyimpannya
dalam sebuah amplop berwarna jingga.
kemudian membawanya ke sebuah semak-semak di dekat danau kecil
yang di situ juga ada banyak amplop
berwarna jingga

Kita dalam satu hati

dalam rentang waktu yang tak terduga,
kita berjumpa
pada akhirnya kita terpisah
jarak dan waktu selalu membuat jengah

dalam rentang waktu yang telah berlalu,
segala yang telah berlalu adalah rindu
setiap nafas yang berhasil dihembuskan
adalah perjalanan

dalam waktu ini,
kita berada di sini
saat kata terwakilkan oleh jari yang menari
saat setiap sendau tawa...