Kamis, 28 Juni 2012

Menonton Bangkutaman


Setelah menembus kemacetan dan hujan, saya ditemani seorang kerabat akhirnya sampai juga di sebuah cafe di daerah Kemang Jakarta, tempat di mana Bangkutaman akan meluncurkan album Ode Buat Kota. Dengan ragu-ragu kami, terutama saya yang asing dengan gigs Jakarta, memasuki cafe itu. Beberapa langkah dari pintu masuk tampak lapak yang menggelar beberapa marchendise dari Bangkutaman. Selain itu juga ada funzine dan CD. Sebelum sampai di panggung, kami melewati koridor yang kanan kirinya terdapat beberapa kursi dan meja. Beberapa orang tanpak sedang ngobrol, merokok, dan minum bir di koridor tersebut. Tentu saja, dari beberapa orang tersebut lebih banyak yang lesehan daripada duduk manis di kursi.
Setelah melewati koridor, akhirnya sampai juga di TKP. Beruntung sekali kami tidak datang terlambat. Masih ada beberapa menit untuk mengamati venue. Di sana tampak panggung yang tidak terlalu tinggi yang di depannya terdapat arena yang lumayan luas buat penonton joget-joget dan beberapa pasang meja kursi yang kebanyakan terbuat dari kayu. Venue juga dilengkapi dengan big screen bertuliskan ’Jangan Marah Record, Ode Buat Kota Bangkutaman’ Ruangan ini berlantai dua. Jika ingin menikmati pertunjukan dengan lebih lengang, penonton bisa naik ke atas. Tentu lantai atas tidak seluas arena pertunjukan di lantai satu.
Sepertinya pertunjukan sudah hampir dimulai. Beberapa orang mulai meringsek ke depan, mencari tempat yang strategis agar bisa memotret, sing a long, dan siapa tahu juga dapat lemparan kaos dari sponsor. Begitu juga dengan para personil Bangkutaman yang sudah berada di bibir panggung. Meskipun ini adalah acara mereka, tapi entahlah...mereka seperti tidak terbebani. Mereka asyik ngobrol, jalan kesana kemari memenuhi panggilan teman, ketawa-ketawa. Tidak berapa lama pembawa acara naik panggung disambut sorak sorai penonton. Beberapa orang memanggil sebuah nama yang saya yakin bukan nama si pembawa acara tapi membuat pembawa acara malu-malu (hedehh...). Si pembawa acara menyebutkan beberapa band yang akan tampil sebelum Bangkutaman naik di atas panggung. Mungkin itu yang disebut band pembuka. Dengan sound yang terbilang sederhana untuk sebuah lounching album, silih berganti band pembuka tampil. Diantara beberapa band pembuka tersebut ada yang mengawali lagu dengan membacakan puisi. Kata-kata dalam puisi tersebut tidak terlalu jelas terdengar karena tiap satu bait selesai dibacakan, penonton ada yang bertepuk tanganlah, suit-suitlah...hahahhaa... Iseng-iseng mataku mencari sosok para personil Bangkutaman (bangaimanapun juga saya datang ke tempat ini untuk penelitiankan?) Mereka masih asyik mengobrol dengan beberapa orang. Acum ada di belakang panggung, Irwin membaur dengan penonton, dan Dedyk duduk di bibir panggung. Beberapa saat kemudian Irwin berjalan menembus kerumunan penonton menuju samping panggung. Mereka bertiga berkumpul di samping panggung dan bersiap-siap.
Waktu sudah menunjukan jam 10 malam ketika Bangkutaman naik panggung. Suasana semakin riuh, penonton semakin meringsek ke depan. Saya tidak mau kalah dong. Saya berusaha maju ke depan demi dapat menikmati Bangkutaman tidak hanya secara audio, tetapi juga secara visual. Selesai lagu pertama, Acum memberikan ’kata sambutan’ yang ditutup dengan tepuk tangan dan siulan dari penonton. Seorang penonton berteriak menawarkan sebotol bir untuk Acum, Acum menanggapi itu dengan senyum (cieeeeee). Bangkutaman terus menggulirkan lagunya. Sampai pada lagu keempat, pertunjukan itu diselingi dengan kuis berhadiah kaos dari sponsor. Usai kuis berhadiah, Bangkutaman kembali bersenandung. Satelit, burn teh disco, catch me when I fall adalah beberapa lagu dari Bangkutaman yang saya hafal yang rupanya mereka mainkan malam itu. Suara gitar Irwin berpadu dengan senandung hamonika milik Acum membuat malam itu benar-benar milik Bangkutaman. Akhirnya Ode buat Kota berkumandang, koor masal selalu terdengar mengiringi lagu yang menceritakan soal kota itu. Entah jam berapa keriaan berakhir. Saya meninggalkan venue tepat pukul 12 malam sesuai janji untuk tidak pulang terlalu pagi (ini Jakarta, nak). Sebelum beranjak, niat untuk membeli beberapa merchandise saya penuhi. Seandainya tidak ada jam malam, dan pertunjukan itu terjadi di Jogja, saya pasti akan menonton hingga usai...sayang sekali...

Senin, 04 Juni 2012

Pertama nonton jazz...


Ehm...sesuai dengan judulnya, tulisan ini akan bercerita tentang pengalaman pertama saya nonton konser musik jazz. Seingat saya sih memang ini kali pertama nonton jazz. Sebenarnya ada plus plusnya juga sih nih konser itu...Pertama kali nonton jazz yang digelar oleh salah satu kampus ternama di Yogyakarta plus bintang-bintang tamu yang juga nggak kalah kondangnya..hem...mungkin di situ nilai jualnya sehingga tiketnya juga yaaaaa…gitu deh hehehhe… 
Pertama kali melihat publikasi tersebut, saya memprediksi bahwa acara akan berlangsung seru, dan pasti banyak ilmu yang dapat diambil oleh penonton. Mungkin semacam klinik musik yang dikemas dengan menghibur, sehingga orang-orang yang datang pun tidak perlu terlalu mengernyitkan dahi untuk memahami genre musik yang katanya cukup njlimet tersebut. Tapi, belum juga mendapat hiburan, justru dahi saya yang mengerut karena untuk mendapatkan tiketnya yahhh....cukup ruwet. Ruwetnya adalah begitu sampai di salah satu tempat yang ditunjuk sebagai tempat penjualan tiket, saya disodori oleh pemilihan kelas-kelas penonton. ada kelas gold, silver trus apalagi ya...saya lupa. Lebih dari tiga kelas pokoknya. Tiap kelas menempati posisi kursi yang berbeda dengan tawaran harga yang berbeda juga. Oke, akhirnya saya memilih kelas silver dengan harga 100 ribu. Menurut saya, harga-harga tiket yang ditawarkan cukup wow sebenarnya untuk kalangan masyarakat jogja, terutama buat saya -saya pernah mengeluarkan uang yang sama besar untuk membeli tiket sebuah acara musik metal yang pengisi acaranya ada 26 band-. Tapi okelah (mungkin) beginilah nonton jazz, -yang katanya genre musik untuk kelas atas-. Sampai disini secara tidak sadar saya sudah memberikan ekspektasi lebih terhadap acara jazz yang akan saya tonton. Jelas, bintang tamunya orang-orang yang mumpuni dibidangnya, diselenggarakan oleh pihak yang populer, dan tentu saja tiket yang yaaa...lumayan harus nguras tabungan.
Dan, tibalah hari H. Acara mulai jam setengah 8. Karena nggak mau rugi maka saya tidak akan melewatkan pertunjukan tersebut barang satu menit pun. Tapi, belum juga nonton, saya sudah dikecewakan oleh pihak panitia terutama yang ngurusi soal parkir. Kejadiannya, waktu itu saya dan sodara saya naik motor. Kami kebingungan mencari tempat parker, jadi bertanyalah kami ke panitia yang standby di depan pintu gerbang tempat pertunjukan berlangsung. Panitia di situ bilang parkir untuk motornya penuh, dan dia tidak tau alternatif tempat parkir sepeda motor yang lain. What???? Bagaimana mungkin sebuah event yang presticious mempunyai tim panitia yang seperti ini?. Apa panitia lupa bahwa sebagian besar penduduk jogja adalah pengendara sepeda motor? Oh…mungkin pihak panitia mengira bahwa yang mampu membeli tiket pertunjukan adalah orang-orang bermobil….baiklah…akhirnya dengan kebaikan salah satu penjual durian yang berjualan di depan gedung pertunjukan tersebut, kami bisa memarkir motor butut kami. Setelah memarkir motor dan menyeberang jalan, dengan tergesa kami (saya dan sodara) masuk ke gedung pertunjukan. Ehm..lumayan oke juga kerja panitia di sini karena mereka memberikan petunjuk-petunjuk lokasi di mana penonton bisa mendapatkan kursi sesuai yang tertera di tiket. Begitupun dengan saya, tidak lama saya mendapatkan kursi yang sudah saya beli. Damn!!! jauhnya kursi saya dari panggung…tapi tidak apa, sedikitterbantu dengan dua buah bigscreen. Ok no problem…pertunjukan pun dimulai.
Jopie item dan Audy muncul sebagai pembuka. Dua buah instrument jazz dimainkan. Saya tidak begitu mengerti mengenai teknik-teknik bermain gitar jadi yaaa menurut saya yang dimainkan Jopie Item cukup rumit. Tidak berapa lama, penyanyi idola saya, Audy muncul menyanyikan lagu milik Frente, Cuscutlan. Yayyyyyy….lagu itu pernah dibawakan Item’s family di Radio Show jadi ya sedikit-sedikit saya tahulah tentang lagu itu dan bisa nyanyi bareng. Dengan kostum serba hitam dan rambut yang terurai, Audy menyapa ramah para penonton yang sepertinya tidak terlalu memenuhi kursi penonton. Kursi penonton banyak yang kosong. Hmmmm….belum lima menit saya memikirkan soal kursi penontong yang kosong, tiba-tiba saya mendengar suara orang mengunyah camilan. Benar…ternyata yang mengunyah camilan itu penonton di sebelah saya. Saya lirik sebentar. Oh…sepasang muda-mudi masa kini…tapi…what…itu dua bungkus semacam chiki-chikian ada di sebelah si pemudi…mau nonton konser atau mau nonton bioskop, mbak??? Suara “kresek…kresek” nya itu lho ganggu banget…Eits…belum sampai di situ, saya kembali terheran-heran ketika banyak penonton yang datang terlambat namun dengan santainya mereka berjalan dan duduk di depan. “Oh, itu orang-orang kelas atas” batin saya. Setelah Audy dan ayahnya tampil, giliran Trisum yang sukses membuat saya misuh-misuh. Gimana nggak misuh-misuh, bagi saya Trisum bermain sangat cantik. Jari-jari mereka mungkin sama lincahnya dengan pianis dan sama lentiknya dengan penari. Tidak terdefinisikanlah pokoknya…Kalau tidak salah Trisum memainkan 5 lagu instrument yang panjang-panjang dan ruwet. Setelah Trisum undur diri dari hadapan penonton, tiba-tiba penonton diminta maju oleh salah satu penonton yang nampaknya salah satu pembesar institusi tertentu (karena si oknum tersebut memakai kemeja batik rapid an celana kain).Semua penonton berebutan maju termasuk saya. Saya ingin melihat Kahitna lebih dekat meskipun saya ingin menonton pertunjukan dari awal secara lebih dekat. “Tapi lumayanlah meski Cuma dapat Kahitna doing”, begitu batin saya. Giliran band Kahitna. Nahhhhhh ini….saya jadi ingat beberapa tahun lalu ada tayangan Tembang Kenangan di Indosiar..kenapa saya mendadak ingat? Karena lagu-lagu yang Kahitna bawakan membuat saya teringat dengan kenangan-kenangan zaman cinta monyet dulu. Hampir seluruh lagu yang dibawakan Kahitna mengiring perjalanan cinta monyet saya hahahhahaha…Namun Kahitna tetaplah Kahitna yang sama memikatnya dengan Kahitna 20 tahun yang lalu. Andai dia tahu, adalah salah satu judul lagu dari Kahitna yang membuat saya histeris…hahaha…dan hampir sepanjang Kahitna memainkan lagu-lagunya, penonton ikut bernyanyi juga termasuk saya..
            Hemmmmmm…untuk refleksi, pertama, ini memang pertama kali saya nonton konser musik jazz. Entahlah, mungkin ada konser musik jazz elit dan konser musik jazz tidak elit. Jika memang demikian, tampaknya saya menonton konser musik jazz yang elit. Hal tersebut ditunjukan dengan yaaaaa….harga tiket yang selangit, petinggi-petinggi yang datang (Ada Roy Suryo juga). Namun elit di sini tampaknya hanya sekedar menunjukan kelas penonton secara materi dan belum menunjukan esensi musik jazz itu sendiri. Sepengetahuan saya sih, musik jazz justru berasal dari masyarakat kelas bawah. Pada saat itu musik jazz digunakan untuk melawan dominasi elit yang mengadakan pertunjukan-pertunjukan di gedung-gedung, sedangkan awal kemunculan jazz ada di bawah kolong-kolong jembatan, sepanjang trotoar, dan di jalanan. Jazz pada tahun-tahun belakangan ini sudah dikomersilkan. Ketakutan saya adalah jika dunia musik jazz seperti ini terus, maka generasi di bawah saya akan memberikan image bahwa jazz hanya pantas ditonton oleh masyarakat kelas atas. Jika kondisinya sudah demikian, perlahan esensi jazz menguap. Kedua, dari buku-buku atau majalah-majalah yang sering say abaca, bahwa elemen penting bermusik selain skill adalah Root, character, attitude. Tiga komponen tersebut nampaknya tidak cukup jika melihat kegaek’an pengisi-pengisi acara dalam konser jazz tersebut. Elemen lain yang saya lihat dari pengisi-pengisi acara tersebut adalah loyalitas dan passion yang tinggi terhadap musik. Mereka justru menghidupi musik, dan bukan musik yang menghidupi mereka. Saya semakin yakin bahwa kalau bermain musik itu sama dengan belajar, tidak ada batasan umur. Seorang pegawai bisa menentukan atau ditentukan kapan dia pension, tapi seorang musisi tidak bisa bisa ditentukan atau menentukan kapan dirinya akan pension karena memang tidak ada masa pension bagi seorang yang menghidupi musik. Selain itu, kita nggak perlulah lebay, sok berdandan musisi untuk menunjukan diri bahwa “gue anak band” misalnya. Justru musik nggak butuh diperlakukan seperti itu. Liat aja, orang-orang yang jagoan musik kan malah rendah hati dan nggak sok menunjukan diri sebagai musisi. Ehm…kadang saya berpikir jangan-jangan musik itu sudah merasuk dalam diri si musisi seperti agama. Cukup diri si musisi dan musik itu sendiri yang tahu semusikal dan secinta apa diri si musisi itu terhadap musik yang dihidupi….entahlah…

Minggu, 29 April 2012

Mantra Jari Menari

Dan jari marilah menari
bersama lekuk tubuh penari

Dan jari marilah menari
bersama kepulan asap para kuli

Dan jari marilah menari
bersama hiruk-pikuk pagi hari

Dan jari marilah menari
bersama lengkingan distorsi

Dan jari marilah menari
bersama mimpi yang tak ingin terjaga oleh pagi

Kisahku dan Senja

Kau melukis senja itu
seperti Kau menulis kisahku ini
Senja yang pasti hadir dalam setiap hari
seperti kisahku yang aku nanti

Kau menulis kisahku seperti yang Engkau mau
Seperti itu juga senja yang selalu dirindu
Bersama cakrawala berpadu
Bersama suka dan duka kisah terpadu

Tuliskan kisahku seperti Kau melukis senja
Bersama tawa dan burung-burung sore
terbang di angkasa
Bersama gelayut rindu yang terpagut
dan akan tersampaikan seiring senja
menutup mata

Minggu, 15 April 2012

DELAPAN

Kata orang sih delapan itu angka yang bagus, karena setiap garisnya tidak terputus.Kalau aku sendiri sih di antara angaka-angka yang ada memang paling suka angka delapan. Aku masih ingat waktu pertama kali belajar menulis angka, angka delapanlah yang paling sulit karena bentuknya melingkar-lingkar. Akhirnya, waktu itu aku terpaksa menulis angka delapan dengan cara menyatukan dua buah lingkaran. satu kecil di atas, dan satunya lagi agak besar di bagian bawah. Begitu istimewanya angka delapan, sampai-sampai waktu pemilihan nomer punggung untuk baju basket, aku memilih angka delapan. Sayangnya, aku kalah cepat dengan temanku yang sudah lebih dulu memesan nomer punggung angka delapan ke guru olahragaku waktu itu. Ngomong-ngomong soal basket dan angka delapan, saat itu ada seorang pemain basket dunia yang paling aku suka. namanya kobe bryan dari LA Lakers....begitulah kisahku dengan angka delapan...

And now...
Diantara angka-angka yang lain, angka delapan masih menjadi angka favorit meskipun saat ini tidak ada kisah special dengan angka delapan. Hingga beberapa hari ini aku sadar akan sesuatu hal. Ehm...aku bertekad, pria yang akan menemaniku seumur hidup adalah pria kedelapan. Hah...maksudnya???? jadi gini, tanpa aku sadari ternyata sampai hari ini aku telah mempunyai tujuh orang mantan pacar. Tujuh orang mantan itu terhitung dari awal aku pacaran (sekitar tahun 2003) sampai tahun 2012 ini. Dari tujuh orang itu sih beda-beda lamanya pacaran. Ada yang bertahun-tahun, ada juga yang hitungan hari. Nah entah kenapa, belum juga memasuki pertengahan tahun, aku mendadak tidak mengincar satu orang pria pun untuk ku jadikan pacar. Ada sih beberapa yang dekat, tapi ya itu tadi...aku tidak berniat mencari pacar apalagi pacaran. Nah entah kenapa, ketika aku sadar bahwa aku telah punya tujuh orang mantan, aku berniat untuk menikah dengan pria yang kedelapan. Makanya, aku sih pinginnya pria kedelapan itu adalah pria yang bener-bener the right man in the right place...Kalau ditanya alasannya, aku sih nggak tahu kenapa punya niatan seperti itu. aku juga ga tahu kenapa tiba-tiba ngitungin jumlah mantan pacar hahahhaa...Ehm...yang jelas sih aku udah nggak mau lagi ribet-ribet ngurusin soal pacaran. Maleslah yang ngalami putus lagi, cari pacar lagi dll....Ehm, tapi ini nggak ada sangkut-pautnya soal umur lho ya. Jadi intinya ya itu tadi....aku udah males ngurusin soal pacaran yang ribet-ribet, dan nggak mau koleksi mantan pacarku bertambah hahahhaha...


Oke deh, pria kedelapan...aku menunggumu dengan segenap hatiku....miss u so...

Kamis, 05 April 2012

Lengang

Rasanya sudah lama merasa rindu hilang
semua berjalan lengang saja
seolah tak menarik lagi
karena riak pergi

Mencinta pun pelan-pelan sembunyi
tak tahu kapan akan menampakkan diri
Mungkin hatinya lelah
atau terlalu terjal untuk didaki

Rindu akan tetap aman di situ
meski sembunyi bersama hatinya yang mencinta penuh
peluh dan keluh
sudah lama juga tak terdengar lagi
kini benar-benar lengang

Kamis, 29 Maret 2012

Ini Negaraku

Ini negaraku, ya ini memang negaraku.
meskipun aku tidak paham benar sejarah negaraku
tapi aku meyakini, ini adalah negaraku
tempat aku melakukan segala hal baik, juga hal terburuk

Ini negaraku
meskipun aku belum tahu apa yang nantinya akan ku berikan
tapi sungguh, banyak yang telah diberikannya padaku
meski susah sungguh, namun ini adalah negaraku.

Maka, sungguh ku tak ingin meninggalkan negaraku
menyakitkan ketika mereka merasa negara ini tidak memberikan apa-apa
kemudian meliriklah ke negara lain dan berniat meninggalkan negara ini
Negara tempat mereka dilahirkan juga.

Menyedihkan ketika mereka merusak negaranya sendiri
mencuri di negaranya sendiri
Negara yang tanpa mereka sendiri telah memberikan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah
Hampir segalanya mereka ambil dari negara ini
apalah guna merusak dan mncuri?

Tapi itu bukan diriku
meski buruk sungguh
ini adalah negaraku, yang kepadanya ku berjanji dan mengabdi
juga kepadanya aku selalu kembali

Sabtu, 24 Maret 2012

Hanya Hampir Sempurna

Seperti saat ini,
kamu sedang menikmati hasil kerja keras
yang mungkin juga cita-cita yang lama ingin diraih.
Hingar-bingar itu memekakan telinga,
entahlah, apakah karena itu kamu selalu kembali padaku.

Seperti saat yang lalu,
ketika malam menghujammu dengan sepi
ketika hingar- bingar kian lama memudar
dan tak ada seorangpun yang tahu keberadaanmu
entahlah, mengapa dengan diam-diam kamu menyapaku

sayangnya kamu tak pernah sempurna bagiku
endapanmu membuatku tak ingin kamu kembali
seperti malam itu dan malam-malam sebelumnya
tak cukupkah bahagia dengan satu wanita?

sayangnya hanya hampir sempurna
dan selamanya tak akan pernah
meski di luar sana memuja

Selasa, 20 Maret 2012

I'll be your best friend and you'll be my valentine

I'll be your best friend and you'll be my valentine
sepotong lirik lagu yang ku kirimkan padamu waktu itu.
dan balasan darimu waktu itu, thanks honey...

beberapa hari yang lalu kamu memanggilku demikian.
tapi hanya beberapa hari
setelah itu, kamu memanggilku seperti kamu memanggil teman-temanmu
yang lain.

tak apa sebenarnya, namun seperti ada yang hilang juga.
pesan-pesan singkat, ucapan selamat pagi dan selamat malam
tak hadir sederas hari-hari kemarin
dan aku merindukannya, ya benar...

you wanna be free so i'm letting you fly
terbanglah ke mana angin membawamu
aku tahu kamu baik dan cukup dewasa untuk meyikapi semuanya
jadi aku tahu kamu akan terbang tak sekedar menuruti angin

namun, jika kamu ingin kembali
kamu tahu aku di sini.
angin pun tak akan mampu membawaku terbang

I'll be your best friend and you'll be my valentine
cheers!!!!

Minggu, 19 Februari 2012

Ayah terbaik Untukmu

Sabar ya, ibu sedang mencari ayah terbaik untukmu.
Agar engkau tidak saja mewarisi keburukan ibumu, tetapi juga kebaikan ayahmu.
Sabar ya, jika ibu tidak dapat berjanji sampai kapan ibu mencarinya
yang pasti, ayahmu haruslah ayah terbaik yang ada di dunia ini.

Dia tidak hanya mampu menggendongmu
tetapi dia juga harus mampu mengganti popokmu.
Dia tidak hanya mampu memberi petuah-petuah bijak
tetapi dia juga harus menunjukan sikap terbaiknya padamu
sebagai anaknya dan juga sebagai pewaris segala hal yang baik dan yang buruk pada dirinya.

Jika kmu nakal, ayahmu harus menyadari bahwa dia juga pernah nakal sepertimu
dan jika kamu berbuat baik, ayahmu juga harus memberimu selamat
bahwa kamu adalah salah satu anak baik di dunia ini.

Jadi bersabarlah anakku
ibu sedang mencari ayah terbaik untukmu.

Rabu, 15 Februari 2012

Cuscutlan - Frente

I love my country
But it wears a uniform
It speaks with foreign guns
In the background you can almost hear
The sound of intervention
And I don't know when
Liberty fell
But we rang every mission bell
We rang them loud and clearly
For a world that wouldn't listen
I don' t want to die
I'm as innocent as anybody
I don' t even know how to spell revolutionary
Jesus in the sky
The bullets in the guns
You don't even know
What we mean by repression
Blood is the color of the sunset
You walked into the darkness
I did not hear your last breath
There will not be an inquest
This is not human interest
We danced the dirt with surrender
For our drumbeat
Danced for the balance sheet
Died for the kind of lasting peace
That pleases the world's police man
And Fatherland raped Motherhood
And told her it was for the global good
And now we ring the mission bell
To warn their children
I don' t want to die
I'm as innocent as anybody
I don' t even know how to spell revolutionary
Jesus in the sky
The bullets in the guns
You don't even know
What we mean by repression
Blood is the color of the sunset
You walked into the darkness
I did not hear your last breath
There will not be an inquest
This is not human interest

Sabtu, 11 Februari 2012

Lelaki Khayalan

Sedikit cerita tentang lelaki dalam khayalan,
yang setiap malam membuaiku dalam mimpi,
yang karenanya aku tak ingin segera terjaga
meski mentari menyilaukan setiap pandangan mata.

Ini tentang lelaki khayalan
yang bahkan tak pernah menyapaku meski pernah bertemu
lelaki yang mempunyai tatapan dingin
bahkan mungki selalu bercerita lewat diam
diam yang hanya dimengerti olehnya.

Lelaki yang selalu terucap dalam setiap nafas
yang kepadanya aku selalu ingin berbagi
kebahagiaan dan kesedihan meskipun dia tak mengenalku
Tapi aku selalu menyimak setiap langkah

* sungguh, ingin memiliki yang seperti dia dalam dunia nyata

Kamis, 09 Februari 2012

Lelaki dan The Way You Look at Me

Lelaki itu menggodaku dalam canda,
dalam riang sapaan
dalam imaginasi yang tak beruang
Tak bersekat, dan tak berjarak.

Waktu pada akhirnya membuat kami bertegur sapa.
Seorang teman, awalnya.
Hingga pada suatu saat aku tersentak
Seandainya bisa bertanya, "maukah jika lebih dari seorang taman?"
Angin menyampaikan padanya
"Jika aku mempunyai kekasih, aku tak bisa lagi menyapamu"

Sekali lagi terhenyak dengan hati yang membuncah,
"Sapa aku setiap hari, hadirkan aku di setiap mimpi"
"Tak bisa, jika kelak aku mempunyai kekasih", katanya.
"Kalau begitu, jadikan aku kekasihmu".

Semua memang berjalan tidak sempurna
Ya, karena kami hanyalah manusia biasa
Namun pagi ini, tiba-tiba dia berkata
"Lagu itu buat kamu"

****
Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows you're the missing piece
You made me believe that there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me (Christian Bautista)

Selasa, 31 Januari 2012

Sekali lagi

Datanglah sekali lagi, meskipun dengan kisah yang berbeda.
Kamu tahu, kamu teramat istimewa hingga untuk memintamu datang pun aku segan.
Datanglah sekali lagi, dengan rasa yang sama seperti pertama kita bertemu.
Aku wanita dan kamu laki-laki, apa salahnya jika bertemu sekali lagi
dengan perasaan seperti waktu itu?

Genggam tanganku sekali lagi, dengan jemari tanganmu yang mengagumkan.
Namun, jika kamu mengijinkan, aku akan bermain dengan rambutmu berkali-kali.
Meskipun tak hanya karena itu, aku memintamu datang
sekali lagi.
Aku wanita dan kamu  laki-laki, apa salahnya kita bertemu sekali lagi?

Jangan buat aku tekejut berkali-kali dengan kehadiranmu ke dalam mimpi
Sekali lagi, datanglah di mimpi

Sabtu, 28 Januari 2012

Hari bersamamu

Ini adalah pertemuan kita untuk yang kesekian kali, kalau kamu ingat. tapi aku sih merasa kamu nggak bakal ingat. ehm...it's oke...biar aku saja yang mengingat-ingatnya.
Pertemuan kali ini sangat istimewa dan sangat tidak terduga. Bagaimana mungkin aku akan menduga kalau kamu membuntuti ku sampai ke rumah
"Lho kok di sini?",
"Iya, tadi aku ngikutin kamu".
Belum selesai rasa heranku, kamu udah buru-buru bertanya,
"Aku bolehkan tidur di rumahmu?".
Lah...apa-apaan ini...mana mungkin aku menolak, tapi kenapa tiba-tiba kamu.....Ahhhhhh nggak penting buat aku tau apa alasannya. yang penting sekarang kamu ada di sini, dan bersamaku.
Pertama melihatmu pagi hari sehabis bangun tidur. Ternyata seperti orang lain kebanyakan ya. Wajah berminyak, rambut acak-acakan, dan bangun dengan dada telanjang.
"Maaf ya, gerah soalnya" katamu seolah tahu kalau melepas baju adalah sesuatu yang aneh, apalagi di hadapan cewek.
Tiba-tiba ibu bilang,
"Nanti akan ada acara di rumah, mas nya nggak apa-apa kan?".
"oh...nggak apa-apa bu. nanti saya boleh bantu-bantu kan?" tanyamu.
Hah...yakin nih mau bantuin?. Seolah tau yang ada dipikiranku, kamu hanya tersenyum,
"Nggak apa-apa. Aku malah seneng, belum pernah soalnya".
Dan acara yang ditunggu-tungu itu juga. sekali lagi aku bertanya,
"Yakin nih nggak apa-apa bantuin?.
"Nggak apa-apa beneran. Sekarang aku harus ngapain?" tanyamu.
"Ehm...kamu nibrung aja sama bapak-bapak. Ntar kamu pasti dikasih tugas sama mereka. good luck ya". "Sip...bentar ya". Kamu segera berlari menuju ke arah bapak-bapak dan pemuda berkumpul. Ah...kamu masih saja keren, keren dan keren meskipun rambut yang biasanya tergerai saat ini kamu ikat ke belakang, dan agak bingung dengan situasi hiruk-pikuk ini. tiba-tiba,
"Do, itu....?" tanya salah seorang temanku yang juga ada di situ.
"Iya". jawabku seolah tau apa yang hendak ditanyakan oleh temanku itu. dan temanku hanya geleng-geleng kepala. Aku cuma senyum aja.
Hari menjelang sore ketika aku menemukanmu sedang duduk di pasir tepi pantai. Angin semilir membuat rambutmu berantakan.
"Lho di sini?. Aku cariin".
"Iya" jawabmu sambil menggambar sesuatu di pasir.
"Suka menyendiri gini ya?" tanyaku.
"Ya...beginilah. Ehm...terima kasih ya". katamu.
"Terima kasih?. buat apa?".
"Terima kasih udah membuat hari-hariku lebih berwarna".
"Bukannya selama ini semuanya baik-baik saja?" tanyaku.
"Iya. tapi kmu udah ngasih pengalaman baru. Acara tadi, keluarga dan teman-temanmu, dan pantai ini. Terima kasih ya".
"Sama-sama. terus selanjutnya?" tanyaku.
"Sebenernya aku masih pengen di sini. tapi.....".
"Kenapa? ditungguin pacarnya ya?" tanyaku.
"Seandainya begitu aku seneng banget pasti".
"Lho memangnya nggak ada? masa sih?".
"Memang harus ada ya?".
"Biasanya sih gitu"
Kamu menggeleng sambil merapikan rambut.
"Nggak semudah itu. Aku malah kasihan sama yang jadi pacarku. Pasti aku tinggal-tinggal. Makanya aku lebih baik sendirian. Padahal enakan kalau berdua seperti sekarang ini pas ada kamu"
"Maksudnya?. Sama aku?"
"Iya. Tapi nanti kamunya kesepian. Jadi mending nggak aja kan" jawabmu sambil mengajakku untuk bangkit dan berjalan meninggalkan pantai.
Ah....jari ini. Jari yang dipuja banyak orang, jari yang saat ini berada diantara jari-jariku.
Sesampainya di rumah tiba-tiba hp mu berdering. Kamu terlihat sibuk bertelepon.
"Iya gue di rumah deket pantai. Iya, yang pager ijo. Lo jemput gue ya baru kita berangkat bareng-bareng. Nggak...gue nggak akan kabur. Santai dong. Iya...ntar gue jelasin. Cuma satu malam doang ini. Iya udah jemput gue".
Kamu segera mematikan hp begitu tahu kalau aku berdiri sambil memandangmu.
"Sorry, aku ganggu ya?" tanyaku.
"Nggak kok. Emang udah selesai ngomongnya. Ehm...ibu mana ya?" tanyamu sambil celingak-celinguk.
"Tadi sih pergi. Ada apa?"
"Ehm....mau pamitan. Besuk aku ada jadwal manggung. Malam ini harus on the way ke sana. Bentar lagi aku dijemput"
"Oh..." jawabku datar
"Maaf ya aku cuma sebentar. Besuk-besuk kalau ada waktu aku ke sini lagi"
Di luar pagar terlihat seorang laki-laki berdiri.
"Bro...ayok cepetan" suara teriakan dari luar pintu pagar.
"Anter aku keluar yuk" katamu.
Aku berjalan di sampingmu. Tangan yang kamu banggakan melingkar di bahuku. Aku ingin sekali detik demi detik berlalu lebih lama. Tapi tidak mungkin. Aku dan kamu sudah berdiri di depan pagar.
"Hati-hati ya. Salam buat teman-teman" kataku.
"Iya terima kasih"
Tiba-tiba kamu membisikan sesuatu di telingaku
"Perpisahan seperti ini yang nggak aku pengen"
Beberapa detik setelah itu kamu pergi sambil melambaikan tangan. Tangan dengan jari-jari yang dipuja banyak orang.
*****
Oh mungkin ak bermimpi menginginkan dirimu untuk ada di sini menemaniku
oh mungkin kah kau yang jadi kekasih sejatiku...
-Monita-kekasih sejati

Kamis, 19 Januari 2012

(mungkin) ini yang terakhir dariku

mungkin ini yang terakhir dariku, meskipun aku sungguh tak ingin.
seperti aku juga tak ingin tempo hari adalah pertemuan kita yang terakhir,
tempo hari juga ciuman dan pelukanmu yang terakhir yang menyentuh kulitku.
sungguh aku tak ingin ada akhir.

jikalau memang harus berakhir,
biarlah berakhir dengan jabatan erat dan pelukan hangat
juga ungkapan, "sesungguhnya hatiku tidak pernah berubah"
tapi apapun itu sesungguhnya aku tidak ingin berakhir
tak ingin ada akhir.

meskipun ketika berjauhan denganmu tidak mudah
tapi kali ini sangat sulit, lebih dari sebelumnya
"semua akan baik2 saja. jaga diri ya"
"iya...terima kasih untuk segala cinta"
* * *

"kamu di mana? mengapa ketika aku membacanya kamu tak ada?"