Sabtu, 28 Januari 2012

Hari bersamamu

Ini adalah pertemuan kita untuk yang kesekian kali, kalau kamu ingat. tapi aku sih merasa kamu nggak bakal ingat. ehm...it's oke...biar aku saja yang mengingat-ingatnya.
Pertemuan kali ini sangat istimewa dan sangat tidak terduga. Bagaimana mungkin aku akan menduga kalau kamu membuntuti ku sampai ke rumah
"Lho kok di sini?",
"Iya, tadi aku ngikutin kamu".
Belum selesai rasa heranku, kamu udah buru-buru bertanya,
"Aku bolehkan tidur di rumahmu?".
Lah...apa-apaan ini...mana mungkin aku menolak, tapi kenapa tiba-tiba kamu.....Ahhhhhh nggak penting buat aku tau apa alasannya. yang penting sekarang kamu ada di sini, dan bersamaku.
Pertama melihatmu pagi hari sehabis bangun tidur. Ternyata seperti orang lain kebanyakan ya. Wajah berminyak, rambut acak-acakan, dan bangun dengan dada telanjang.
"Maaf ya, gerah soalnya" katamu seolah tahu kalau melepas baju adalah sesuatu yang aneh, apalagi di hadapan cewek.
Tiba-tiba ibu bilang,
"Nanti akan ada acara di rumah, mas nya nggak apa-apa kan?".
"oh...nggak apa-apa bu. nanti saya boleh bantu-bantu kan?" tanyamu.
Hah...yakin nih mau bantuin?. Seolah tau yang ada dipikiranku, kamu hanya tersenyum,
"Nggak apa-apa. Aku malah seneng, belum pernah soalnya".
Dan acara yang ditunggu-tungu itu juga. sekali lagi aku bertanya,
"Yakin nih nggak apa-apa bantuin?.
"Nggak apa-apa beneran. Sekarang aku harus ngapain?" tanyamu.
"Ehm...kamu nibrung aja sama bapak-bapak. Ntar kamu pasti dikasih tugas sama mereka. good luck ya". "Sip...bentar ya". Kamu segera berlari menuju ke arah bapak-bapak dan pemuda berkumpul. Ah...kamu masih saja keren, keren dan keren meskipun rambut yang biasanya tergerai saat ini kamu ikat ke belakang, dan agak bingung dengan situasi hiruk-pikuk ini. tiba-tiba,
"Do, itu....?" tanya salah seorang temanku yang juga ada di situ.
"Iya". jawabku seolah tau apa yang hendak ditanyakan oleh temanku itu. dan temanku hanya geleng-geleng kepala. Aku cuma senyum aja.
Hari menjelang sore ketika aku menemukanmu sedang duduk di pasir tepi pantai. Angin semilir membuat rambutmu berantakan.
"Lho di sini?. Aku cariin".
"Iya" jawabmu sambil menggambar sesuatu di pasir.
"Suka menyendiri gini ya?" tanyaku.
"Ya...beginilah. Ehm...terima kasih ya". katamu.
"Terima kasih?. buat apa?".
"Terima kasih udah membuat hari-hariku lebih berwarna".
"Bukannya selama ini semuanya baik-baik saja?" tanyaku.
"Iya. tapi kmu udah ngasih pengalaman baru. Acara tadi, keluarga dan teman-temanmu, dan pantai ini. Terima kasih ya".
"Sama-sama. terus selanjutnya?" tanyaku.
"Sebenernya aku masih pengen di sini. tapi.....".
"Kenapa? ditungguin pacarnya ya?" tanyaku.
"Seandainya begitu aku seneng banget pasti".
"Lho memangnya nggak ada? masa sih?".
"Memang harus ada ya?".
"Biasanya sih gitu"
Kamu menggeleng sambil merapikan rambut.
"Nggak semudah itu. Aku malah kasihan sama yang jadi pacarku. Pasti aku tinggal-tinggal. Makanya aku lebih baik sendirian. Padahal enakan kalau berdua seperti sekarang ini pas ada kamu"
"Maksudnya?. Sama aku?"
"Iya. Tapi nanti kamunya kesepian. Jadi mending nggak aja kan" jawabmu sambil mengajakku untuk bangkit dan berjalan meninggalkan pantai.
Ah....jari ini. Jari yang dipuja banyak orang, jari yang saat ini berada diantara jari-jariku.
Sesampainya di rumah tiba-tiba hp mu berdering. Kamu terlihat sibuk bertelepon.
"Iya gue di rumah deket pantai. Iya, yang pager ijo. Lo jemput gue ya baru kita berangkat bareng-bareng. Nggak...gue nggak akan kabur. Santai dong. Iya...ntar gue jelasin. Cuma satu malam doang ini. Iya udah jemput gue".
Kamu segera mematikan hp begitu tahu kalau aku berdiri sambil memandangmu.
"Sorry, aku ganggu ya?" tanyaku.
"Nggak kok. Emang udah selesai ngomongnya. Ehm...ibu mana ya?" tanyamu sambil celingak-celinguk.
"Tadi sih pergi. Ada apa?"
"Ehm....mau pamitan. Besuk aku ada jadwal manggung. Malam ini harus on the way ke sana. Bentar lagi aku dijemput"
"Oh..." jawabku datar
"Maaf ya aku cuma sebentar. Besuk-besuk kalau ada waktu aku ke sini lagi"
Di luar pagar terlihat seorang laki-laki berdiri.
"Bro...ayok cepetan" suara teriakan dari luar pintu pagar.
"Anter aku keluar yuk" katamu.
Aku berjalan di sampingmu. Tangan yang kamu banggakan melingkar di bahuku. Aku ingin sekali detik demi detik berlalu lebih lama. Tapi tidak mungkin. Aku dan kamu sudah berdiri di depan pagar.
"Hati-hati ya. Salam buat teman-teman" kataku.
"Iya terima kasih"
Tiba-tiba kamu membisikan sesuatu di telingaku
"Perpisahan seperti ini yang nggak aku pengen"
Beberapa detik setelah itu kamu pergi sambil melambaikan tangan. Tangan dengan jari-jari yang dipuja banyak orang.
*****
Oh mungkin ak bermimpi menginginkan dirimu untuk ada di sini menemaniku
oh mungkin kah kau yang jadi kekasih sejatiku...
-Monita-kekasih sejati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar