Jumat, 22 Oktober 2010

Tentang Wanita itu

Kembali aku melihat wanita itu mengunjungi cafe ini. Sebagai seorang pelayan, aku tahu benar seberapa sering wanita itu mengunjungi cafe tempatku bekerja. Setelah dia masuk, seperti biasa dia mencari tempat paling pojok dekat jendela besar yang menghadap jalan raya. Itu tempat favoritnya. Segera aku menghampiri wanita itu untuk memberikan daftar menu. Tapi ternyata dia tidak memerlukannya. Dia sudah hapal betul menu-menunya. Hari ini dia memilih secangkir coklat hangat dan sepiring onion ring. "Baiklah, tunggu sebentar," kataku kemudian aku segera berlalu ke dapur. sambil menunggu, sengaja aku mengamati wanita itu. setelah membolak-balik koran yang dibawanya, dia segera membuka laptop. Tampak dia mengetik sesuatu dengan santai sambil sesekali tersenyum sendiri. Entah dia mengetik apa dalam laptopnya.


Aku tidak pernah minta dilahirkan sebagai wanita. Pun aku tidak tahu akan lahir melalui rahim siapa. Tampaknya sih aku bahagia. Tapi tidak juga. Tapi tidak bagus juga merasa paling menderita di dunia karena kenyataannya lebih banyak orang yang menderita dan penderitaannya melebihi penderitaanku. kalau begitu ku simpulkan saja bahwa tiap-tiap orang mempunyai penderitaan yang berbeda-beda...
Hari-hari ini aku merasa berada di bawah tekanan. Pekerjaan, tugas kuliah, tugas rumah...hahahhaha...rumah orangtua lebih tepatnya. Aku sih sudah membeli rumah, tapi mungkin lebih tepatnya rumah yang berfungsi seperti villa. Aku hanya menempatinya seminggu sekali. kadang sendirian, kadang bersama teman-teman. Ya....aku hanya punya teman-teman. entahlah, apa yang terjadi jika satu persatu teman-temanku itu menikah dan mereka sibuk dengan keluarganya. Aku menikah juga nggak ya??? hahahahaha....belum terpikirkan...kisah asmaraku morat-marit, tapi untung saja pekerjaan dan kuliahku baik-baik saja. Apa jadinya kalau soal asmara morat-marit begitu juga dengan pekerjaan??? Jadilah aku manusia paling menderita di dunia ini...Tapi aku tak akan pernah menderita, karena aku punya teman setia...entahlah, mungkin ini suatu perspektif yang salah, tapi toh aku merasa baik-baik saja ketika ada dia. ya..aku mengerti norma sosial pun dari segi kesehatan selalu berpesan tak baik jika terlalu dekat dengan si putih dan teman-temannya, termasuk si putihku. tapi mereka tak tahu apa-apa. mereka tak pernah menanyakan kenapa aku suka dekat-dekat dengan si putih. Cuma dia yang bisa membuatku nyaman. Tapi itu sekarang lho ya... entah besuk, entah lusa...apapun yang namanya ketergantungan itu tidak baikkan? dan aku menyadarinya...besuk atau lusa, aku yang akan meninggalkannya...dan aku yakin putih akan baik-baik saja..

"Mbak ini pesanannya," kataku.
"Oh..iya terima kasih. Ini...ambillah"
Wanita itu menyodorkan beberapa lembar uang dan sebungkus rokok. Aku menerima, mengucapkan terima kasih dan mohon pamit. Setelah aku kembali ke meja bar, aku melihat wanita itu membuka tas, mengambil sebungkus rokok, membukanya dan mengambil satu batang untuk diselipkan di dalam bibirnya yang berhias lipstick mahal...mungkin rokok yang ada di bibirnya itu juga rokok mahal. Beberapa saat kemudian kembali dia tenggelam bersama laptopnya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar