Sabtu, 15 Oktober 2011

Amplop berwarna Jingga

kadang, aku juga ingin normal seperti mereka.
tertawa ketika bahagia dan menangis karena lara.
menjalani kehidupan bagaikan garis lurus yang tak putus.
menerima takdir seperti jalan beraspal mulus,

namun aku memilih mabuk, ketika semua waras
mabuk akan kegilaan hidupku sendiri
lebih memilih berbelok ketika semua jalan terus

kini aku terlanjur tak serupa
dan pasti tak pernah sama.
tawaku belum tentu bahagiaku, begitu pula tangisku

aku memilih menikmati kegilaan ini dalam waktu lama
menjalani semua yang tak semestinya

***
aku kemudian melipat lembaran ini. menyimpannya
dalam sebuah amplop berwarna jingga.
kemudian membawanya ke sebuah semak-semak di dekat danau kecil
yang di situ juga ada banyak amplop
berwarna jingga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar