Ketika waktu itu, teman-teman perempuan sebayaku memilih untuk bermain boneka.
aku memilih untuk ikut serta beradu dan mengejar layang-layang putus bersama teman-teman pria. Tak jarang aku dicurangi mereka, karena aku paling muda, wanita, dan terlalu polos menuruti apa yang mereka katakan. Aku yakin saja. Berlarian di pematang sawah yang menghubungakn kompleks rumah dengan lapangan sepak bola, dan aku turut serta bersama rombongan. Menuju lapangan bola dengan bahagia.
Ketika waktu berganti, aku tetap seperti ini saja.
Bermain bola dan mengejar layang-layang putus memang sudah tak pernah lagi terjadi dalam hari-hariku. Bukan tak mau, tapi karena tidak ada yang ditendang, tidak ada yang dikejar...hm....aku mengejar yang lainnya....
Ketika teman-teman yang menyebut diri mereka perempuan asik membicarakan kosmetik keluaran terbaru, aku berburu kaset dan mencoba memainkannya. Sendiri maupun bersama teman-teman satu band. Ketika mereka sibuk berfashion show, aku sibuk ngeband.
Ketika mereka mengidolakan pria berparas tampan, kulit putih, badan wangi, aku malah suka dengan pria acak-acakan, rambut gondrong. Yang ku mengerti, hati yang mempesona tidak selalu tercermin dari penampilan, dan aku lebih membutuhkan hati daripada penampilan.
Ketika perempuan yang lain sibuk ke salon....jangankan aku ikut serta, mandi pun belum tentu dalam sehari. Dan aku menikmati. Ini tubuhku, dan aku berhak atas itu...
Ketika setiap perempuan melarang kekashinya merokok, minum, dan berteman dengan banyak perempuan...jangankan melarang, menegur pun aku merasa tak berhak karena aku juga minim, merokok dan mempunyai banyak teman pria...hahahhahaaaaa......
Dan sampailah pada usia ketika seumuranku berkasih-kasihan
Aku biasa saja, sibuk dengan hal-hal yang membuatku bahagia...dan itu belum tentu seorang kekasih pun seorang suami. Kemudian ketika seorang pria memilih seorang wanita "baik" yang tercermin dari cara berpakaian, cara tertawa, cara tersenyum dan bertingkah laku...Aku merasa bahwa aku wanita berbeda. Aku tak memiliki itu semua, tapi hatiku tidak bisa dilihat oelh sembarang pria..
Senin, 15 November 2010
Kamis, 04 November 2010
seperti roller coaster
Berputar...berputar...
mlengkuer..mlengkuer
lambat, lebih cepat, cepat sekali
wushhhhhhh...wushhhhhhhh
aku teriak-teriak saat pertama kali mencoba menaiki salah satu wahana permainan yang diberi nama roller coaster, di salah tempat wisata terkenal di Indonesia. Aku berpegangan erat pada pengaman -seerat aku memegang balon biar nggak meletus-
aku menjerit-jerit juga ketika roller coaster itu melaju lebih cepat, lebih cepat, dan sangat cepat.
naik, turun...serasa dihempaskan...jantung ditarik ulur seperti layang-layang yang sedang diperlombakan.
saat itu aku berharap agar permainan cepat selesai, cepat diakhiri. Lalu ketika perminan itu benar-benar berakhir...fiuhhhhhhh..aku bernafas lega...selamat riwayatku...dan aku kembali tersenyum ceria walau tampang masih pucat.
Lalu, seperti itulah hidup
seperti itulah kisah dari setiap cinta
yang bisa dilakukan, hanya menikmatinya saja...
mlengkuer..mlengkuer
lambat, lebih cepat, cepat sekali
wushhhhhhh...wushhhhhhhh
aku teriak-teriak saat pertama kali mencoba menaiki salah satu wahana permainan yang diberi nama roller coaster, di salah tempat wisata terkenal di Indonesia. Aku berpegangan erat pada pengaman -seerat aku memegang balon biar nggak meletus-
aku menjerit-jerit juga ketika roller coaster itu melaju lebih cepat, lebih cepat, dan sangat cepat.
naik, turun...serasa dihempaskan...jantung ditarik ulur seperti layang-layang yang sedang diperlombakan.
saat itu aku berharap agar permainan cepat selesai, cepat diakhiri. Lalu ketika perminan itu benar-benar berakhir...fiuhhhhhhh..aku bernafas lega...selamat riwayatku...dan aku kembali tersenyum ceria walau tampang masih pucat.
Lalu, seperti itulah hidup
seperti itulah kisah dari setiap cinta
yang bisa dilakukan, hanya menikmatinya saja...
Jumat, 29 Oktober 2010
Bagaimana aku tidak cinta???
Satu pesan singkat masuk ke dalam telpon genggamku. Pesan itu dari darinya. Pesan itu masuk tiba-tiba.
"Kamu dimana?" bunyi pesan itu.
Kemudian aku jawab kalau aku masih bersama teman-teman, sibuk menyelesaikan pekerjaan.
"Dimana?" pesan singkatnya tiba lagi.
Lalu aku menjelaskan keberadaanku.
"Oke tunggu aku". Itu bunyi pesannya yang terakhir sebelum akhirnya kami bertemu.
Bukan satu atau dua jam dia menemaniku. Bahkan ketika mataku sudah tidak kuat menahan kantuk, dia membangunkan, memberikan semangat agar aku tetap terjaga dan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Akhirnya tunai sudah pekerjaan hari ini. Aku kembali ke rumah dengan tampang kuyu kelelahan. Dia masih bersamaku, menemaniku. Aku tahu dirinya juga sama denganku. Bahkan mungkin lebih lelah...
"Terima kasih untuk malam ini" kataku.
"Terima kasih kembali", katanya.
"I love you" kataku. Dia tertawa terbahak-bahak, dan aku juga. Kami saling mencium tangan sebagai tanda perpisahan. Tentunya untuk bertemu kembali...
"Aku pergi sebentar" kataku.
"Kemana?" tanyanya.
"Mau ketemu orang. Sebentar ya....". Dan akupun berlalu.
"Aku mau ketemu" kataku.
"Jangan sekarang, aku masih sibuk".
"Oke, 2 jam lagi ya" pintaku.
Dua jam berlalu, dan kami pun bertemu. Tidak hanya berdua, karena ada beberapa teman yang ikut serta. Kami semua tertawa, bercanda seperti keluarga, seperti sudah lama kenal, seperti sahabat lama yang berjumpa kembali.
"Ini buat kalian" katanya kepada teman-teman yang ada di situ, dan tidak kepadaku.
"Sudah aku kirim" katanya tiba-tiba dalam telpon.
"Haaaa...secepat itu?"
"Hmmm...standartlah...semoga bisa membantumu. Apa yang salah tolong diperbaiki lagi ya. Itu sudah aku koreksi. Semangat terus oke...."
Aku buka situs jejaring sosial, dan aku lihat ada beberapa pesan darinya.
Ku baca sebentar. Lalu aku buka surat elektronik via internet. Ada beberapa pesan darinya...
Aku baca...dan pesan itu sangat membantuku...
Lalu apalagi?
Lalu bagaimana aku tidak mencintaimu?
"Kamu dimana?" bunyi pesan itu.
Kemudian aku jawab kalau aku masih bersama teman-teman, sibuk menyelesaikan pekerjaan.
"Dimana?" pesan singkatnya tiba lagi.
Lalu aku menjelaskan keberadaanku.
"Oke tunggu aku". Itu bunyi pesannya yang terakhir sebelum akhirnya kami bertemu.
Bukan satu atau dua jam dia menemaniku. Bahkan ketika mataku sudah tidak kuat menahan kantuk, dia membangunkan, memberikan semangat agar aku tetap terjaga dan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Akhirnya tunai sudah pekerjaan hari ini. Aku kembali ke rumah dengan tampang kuyu kelelahan. Dia masih bersamaku, menemaniku. Aku tahu dirinya juga sama denganku. Bahkan mungkin lebih lelah...
"Terima kasih untuk malam ini" kataku.
"Terima kasih kembali", katanya.
"I love you" kataku. Dia tertawa terbahak-bahak, dan aku juga. Kami saling mencium tangan sebagai tanda perpisahan. Tentunya untuk bertemu kembali...
"Aku pergi sebentar" kataku.
"Kemana?" tanyanya.
"Mau ketemu orang. Sebentar ya....". Dan akupun berlalu.
"Aku mau ketemu" kataku.
"Jangan sekarang, aku masih sibuk".
"Oke, 2 jam lagi ya" pintaku.
Dua jam berlalu, dan kami pun bertemu. Tidak hanya berdua, karena ada beberapa teman yang ikut serta. Kami semua tertawa, bercanda seperti keluarga, seperti sudah lama kenal, seperti sahabat lama yang berjumpa kembali.
"Ini buat kalian" katanya kepada teman-teman yang ada di situ, dan tidak kepadaku.
"Sudah aku kirim" katanya tiba-tiba dalam telpon.
"Haaaa...secepat itu?"
"Hmmm...standartlah...semoga bisa membantumu. Apa yang salah tolong diperbaiki lagi ya. Itu sudah aku koreksi. Semangat terus oke...."
Aku buka situs jejaring sosial, dan aku lihat ada beberapa pesan darinya.
Ku baca sebentar. Lalu aku buka surat elektronik via internet. Ada beberapa pesan darinya...
Aku baca...dan pesan itu sangat membantuku...
Lalu apalagi?
Lalu bagaimana aku tidak mencintaimu?
Kamis, 28 Oktober 2010
Tentang Yang Diluar Dugaan
Betapa di dunia ini penuh kejutan
yang tidak pernah terduga terjadi
hadir dan menyapa diri begitu dekat
begitu lekat
Salah siapa jika semua terjadi?
Ah....lebih baik tak usah dipertanyakan
toh kehadirannya bukan suatu kesalahan
toh yang terjadi sudah pasti dikehendaki
dan kita ini hanya menjalani
Lalu semua ini tak mungkin rekayasa
Ketika ada yang datang dan kemudian ada yang pergi
sama
Katika ada perjumpaan kemudian berpisah
dan kebersamaan terasa mempesona
karena tidak pernah diduga sebelumnya
yang tidak pernah terduga terjadi
hadir dan menyapa diri begitu dekat
begitu lekat
Salah siapa jika semua terjadi?
Ah....lebih baik tak usah dipertanyakan
toh kehadirannya bukan suatu kesalahan
toh yang terjadi sudah pasti dikehendaki
dan kita ini hanya menjalani
Lalu semua ini tak mungkin rekayasa
Ketika ada yang datang dan kemudian ada yang pergi
sama
Katika ada perjumpaan kemudian berpisah
dan kebersamaan terasa mempesona
karena tidak pernah diduga sebelumnya
Jumat, 22 Oktober 2010
Tentang Wanita itu
Kembali aku melihat wanita itu mengunjungi cafe ini. Sebagai seorang pelayan, aku tahu benar seberapa sering wanita itu mengunjungi cafe tempatku bekerja. Setelah dia masuk, seperti biasa dia mencari tempat paling pojok dekat jendela besar yang menghadap jalan raya. Itu tempat favoritnya. Segera aku menghampiri wanita itu untuk memberikan daftar menu. Tapi ternyata dia tidak memerlukannya. Dia sudah hapal betul menu-menunya. Hari ini dia memilih secangkir coklat hangat dan sepiring onion ring. "Baiklah, tunggu sebentar," kataku kemudian aku segera berlalu ke dapur. sambil menunggu, sengaja aku mengamati wanita itu. setelah membolak-balik koran yang dibawanya, dia segera membuka laptop. Tampak dia mengetik sesuatu dengan santai sambil sesekali tersenyum sendiri. Entah dia mengetik apa dalam laptopnya.
Aku tidak pernah minta dilahirkan sebagai wanita. Pun aku tidak tahu akan lahir melalui rahim siapa. Tampaknya sih aku bahagia. Tapi tidak juga. Tapi tidak bagus juga merasa paling menderita di dunia karena kenyataannya lebih banyak orang yang menderita dan penderitaannya melebihi penderitaanku. kalau begitu ku simpulkan saja bahwa tiap-tiap orang mempunyai penderitaan yang berbeda-beda...
Hari-hari ini aku merasa berada di bawah tekanan. Pekerjaan, tugas kuliah, tugas rumah...hahahhaha...rumah orangtua lebih tepatnya. Aku sih sudah membeli rumah, tapi mungkin lebih tepatnya rumah yang berfungsi seperti villa. Aku hanya menempatinya seminggu sekali. kadang sendirian, kadang bersama teman-teman. Ya....aku hanya punya teman-teman. entahlah, apa yang terjadi jika satu persatu teman-temanku itu menikah dan mereka sibuk dengan keluarganya. Aku menikah juga nggak ya??? hahahahaha....belum terpikirkan...kisah asmaraku morat-marit, tapi untung saja pekerjaan dan kuliahku baik-baik saja. Apa jadinya kalau soal asmara morat-marit begitu juga dengan pekerjaan??? Jadilah aku manusia paling menderita di dunia ini...Tapi aku tak akan pernah menderita, karena aku punya teman setia...entahlah, mungkin ini suatu perspektif yang salah, tapi toh aku merasa baik-baik saja ketika ada dia. ya..aku mengerti norma sosial pun dari segi kesehatan selalu berpesan tak baik jika terlalu dekat dengan si putih dan teman-temannya, termasuk si putihku. tapi mereka tak tahu apa-apa. mereka tak pernah menanyakan kenapa aku suka dekat-dekat dengan si putih. Cuma dia yang bisa membuatku nyaman. Tapi itu sekarang lho ya... entah besuk, entah lusa...apapun yang namanya ketergantungan itu tidak baikkan? dan aku menyadarinya...besuk atau lusa, aku yang akan meninggalkannya...dan aku yakin putih akan baik-baik saja..
"Mbak ini pesanannya," kataku.
"Oh..iya terima kasih. Ini...ambillah"
Wanita itu menyodorkan beberapa lembar uang dan sebungkus rokok. Aku menerima, mengucapkan terima kasih dan mohon pamit. Setelah aku kembali ke meja bar, aku melihat wanita itu membuka tas, mengambil sebungkus rokok, membukanya dan mengambil satu batang untuk diselipkan di dalam bibirnya yang berhias lipstick mahal...mungkin rokok yang ada di bibirnya itu juga rokok mahal. Beberapa saat kemudian kembali dia tenggelam bersama laptopnya....
Aku tidak pernah minta dilahirkan sebagai wanita. Pun aku tidak tahu akan lahir melalui rahim siapa. Tampaknya sih aku bahagia. Tapi tidak juga. Tapi tidak bagus juga merasa paling menderita di dunia karena kenyataannya lebih banyak orang yang menderita dan penderitaannya melebihi penderitaanku. kalau begitu ku simpulkan saja bahwa tiap-tiap orang mempunyai penderitaan yang berbeda-beda...
Hari-hari ini aku merasa berada di bawah tekanan. Pekerjaan, tugas kuliah, tugas rumah...hahahhaha...rumah orangtua lebih tepatnya. Aku sih sudah membeli rumah, tapi mungkin lebih tepatnya rumah yang berfungsi seperti villa. Aku hanya menempatinya seminggu sekali. kadang sendirian, kadang bersama teman-teman. Ya....aku hanya punya teman-teman. entahlah, apa yang terjadi jika satu persatu teman-temanku itu menikah dan mereka sibuk dengan keluarganya. Aku menikah juga nggak ya??? hahahahaha....belum terpikirkan...kisah asmaraku morat-marit, tapi untung saja pekerjaan dan kuliahku baik-baik saja. Apa jadinya kalau soal asmara morat-marit begitu juga dengan pekerjaan??? Jadilah aku manusia paling menderita di dunia ini...Tapi aku tak akan pernah menderita, karena aku punya teman setia...entahlah, mungkin ini suatu perspektif yang salah, tapi toh aku merasa baik-baik saja ketika ada dia. ya..aku mengerti norma sosial pun dari segi kesehatan selalu berpesan tak baik jika terlalu dekat dengan si putih dan teman-temannya, termasuk si putihku. tapi mereka tak tahu apa-apa. mereka tak pernah menanyakan kenapa aku suka dekat-dekat dengan si putih. Cuma dia yang bisa membuatku nyaman. Tapi itu sekarang lho ya... entah besuk, entah lusa...apapun yang namanya ketergantungan itu tidak baikkan? dan aku menyadarinya...besuk atau lusa, aku yang akan meninggalkannya...dan aku yakin putih akan baik-baik saja..
"Mbak ini pesanannya," kataku.
"Oh..iya terima kasih. Ini...ambillah"
Wanita itu menyodorkan beberapa lembar uang dan sebungkus rokok. Aku menerima, mengucapkan terima kasih dan mohon pamit. Setelah aku kembali ke meja bar, aku melihat wanita itu membuka tas, mengambil sebungkus rokok, membukanya dan mengambil satu batang untuk diselipkan di dalam bibirnya yang berhias lipstick mahal...mungkin rokok yang ada di bibirnya itu juga rokok mahal. Beberapa saat kemudian kembali dia tenggelam bersama laptopnya....
Selasa, 19 Oktober 2010
Yang Tidak Pernah Mengatakan "Aku Mencintaimu"
Mereka ditakdirkan bersamaku,
merangkai kisah entah sampai kapan,
kadang ku uikir cerita sendiri diam-diam,
tapi mereka selalu bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?"
Mereka bertanya, karena mereka cinta.
Aku berjalan kemana aku ingin pergi.
Tertawa ketika ada kegembiraan,
Menangis jika airmata sedang dibutuhkan,
Bercerita ketika ada sesuatu yang ingin aku bagi.
Aku membaginya karena aku cinta.
Dia mendengar setiap berkeluh-kesah.
Namun mengingatkan tak semua kisah harus dibagi., "Rahasiakan yang perlu dirahasiakan".
Menemani ketika hari hampir pagi dan tubuh menjelang lelah.
Memberikan kejutan-kejutan sederhana yang mempesona.
Tapi dia tidak pernah berkata, "Aku mencintaimu"
Jadi aku tidak perlu bertanya, "Kapan lagi kau bilang I love you?"
merangkai kisah entah sampai kapan,
kadang ku uikir cerita sendiri diam-diam,
tapi mereka selalu bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?"
Mereka bertanya, karena mereka cinta.
Aku berjalan kemana aku ingin pergi.
Tertawa ketika ada kegembiraan,
Menangis jika airmata sedang dibutuhkan,
Bercerita ketika ada sesuatu yang ingin aku bagi.
Aku membaginya karena aku cinta.
Dia mendengar setiap berkeluh-kesah.
Namun mengingatkan tak semua kisah harus dibagi., "Rahasiakan yang perlu dirahasiakan".
Menemani ketika hari hampir pagi dan tubuh menjelang lelah.
Memberikan kejutan-kejutan sederhana yang mempesona.
Tapi dia tidak pernah berkata, "Aku mencintaimu"
Jadi aku tidak perlu bertanya, "Kapan lagi kau bilang I love you?"
Jumat, 15 Oktober 2010
Tentang Sahabat Lama yang Hilang
Tentang dia, seorang sahabat lama yang hilang.
yang meyakini bahwa aku wanita terbaik yang pernah dikenalnya.
Tentang dia, yang pernah menggairahkan hari-hariku, waktu itu.
yang datang tiba-tiba.
Tentang dia, laki-laki, sahabat lama yang saat ini tidak pernah berkabar lagi.
yang menyadari bahwa ruang tak akan pernah bisa menjadi batas
bagi setiap hati.
Tentang dia, yang menyadari bahwa dalam hidup selalu ada perbedaan.
meskipun perbedaan itu indah, tetapi berbeda tetaplah berbeda.
kenyataan berkata seperti itu.
Tentang dia, sahabat lama yang berada di negara seberang
meski hanya berbeda waktu satu jam.
Namun saat ini, aku tidak bisa meminta waktunya lagi,
meski hanya satu jam, meski hanya untuk berkabar padaku.
Ini tentang sahabat lama yang sudah lama tidak mengirim kabar.
dan aku rindu mendengar kabarnya,
Ini tentang sahabat lama,
meski dia laki-laki yang pernah menyatakan cinta
namun dia tetap sahabat saya,
sahabat yang sudah lama tidak mengirimkan kabar
yang meyakini bahwa aku wanita terbaik yang pernah dikenalnya.
Tentang dia, yang pernah menggairahkan hari-hariku, waktu itu.
yang datang tiba-tiba.
Tentang dia, laki-laki, sahabat lama yang saat ini tidak pernah berkabar lagi.
yang menyadari bahwa ruang tak akan pernah bisa menjadi batas
bagi setiap hati.
Tentang dia, yang menyadari bahwa dalam hidup selalu ada perbedaan.
meskipun perbedaan itu indah, tetapi berbeda tetaplah berbeda.
kenyataan berkata seperti itu.
Tentang dia, sahabat lama yang berada di negara seberang
meski hanya berbeda waktu satu jam.
Namun saat ini, aku tidak bisa meminta waktunya lagi,
meski hanya satu jam, meski hanya untuk berkabar padaku.
Ini tentang sahabat lama yang sudah lama tidak mengirim kabar.
dan aku rindu mendengar kabarnya,
Ini tentang sahabat lama,
meski dia laki-laki yang pernah menyatakan cinta
namun dia tetap sahabat saya,
sahabat yang sudah lama tidak mengirimkan kabar
Langganan:
Postingan (Atom)