Sabtu, 15 Oktober 2011

Amplop berwarna Jingga

kadang, aku juga ingin normal seperti mereka.
tertawa ketika bahagia dan menangis karena lara.
menjalani kehidupan bagaikan garis lurus yang tak putus.
menerima takdir seperti jalan beraspal mulus,

namun aku memilih mabuk, ketika semua waras
mabuk akan kegilaan hidupku sendiri
lebih memilih berbelok ketika semua jalan terus

kini aku terlanjur tak serupa
dan pasti tak pernah sama.
tawaku belum tentu bahagiaku, begitu pula tangisku

aku memilih menikmati kegilaan ini dalam waktu lama
menjalani semua yang tak semestinya

***
aku kemudian melipat lembaran ini. menyimpannya
dalam sebuah amplop berwarna jingga.
kemudian membawanya ke sebuah semak-semak di dekat danau kecil
yang di situ juga ada banyak amplop
berwarna jingga

Kita dalam satu hati

dalam rentang waktu yang tak terduga,
kita berjumpa
pada akhirnya kita terpisah
jarak dan waktu selalu membuat jengah

dalam rentang waktu yang telah berlalu,
segala yang telah berlalu adalah rindu
setiap nafas yang berhasil dihembuskan
adalah perjalanan

dalam waktu ini,
kita berada di sini
saat kata terwakilkan oleh jari yang menari
saat setiap sendau tawa...

Kamis, 17 Februari 2011

Yang bercerita, terbaca, dan terlupa

hanya gambar ini yang bercerita
jika dahulu pernah ada cinta
ada tatapan mesra antar sepasang mata
ada senyuman dari segurat bibir yang merah merona

hanya sederet huruf ini yang mampu terbaca
ketika ada rindu penuh dahaga
ada harapan yang menanti nyata

selain itu,
mungkin sama-sama terlupa
bahwa pernah ada suara penuh gairah
berkata
"ingin ku miliki engkau selamanya, tidak hanya raga"

juga ada janji
yang berjanji tak akan diingkari
entah janji dalam hati
atau janji penuh arti
"janji, tidak hanya hari ini kita saling mencintai"

Lelaki Itu

ibu, aku mencintai lelaki itu
lelaki yang suka bermain musik
sama seperti bapak
lelaki yang pintar memasak
sama seperti ibu

ibu, aku mencintai lelaki itu
lelaki yang memandang wanita sebagai patner
bukan perhiasan
lelaki yang menghormati wanita
karena dia sadar bahwa dia lahir lewat rahim wanita pula

ibu, aku mencintai lelaki itu
tanpa mengurangi rasa sayangku padamu
ibu, aku mencintai lelaki itu

Jumat, 11 Februari 2011

Asmara

sebelum mengenalku dalam, dia telah mengenalku lewat ini
membaca tulisan-tulisan pribadi ku
mungkin sekadar membacanya
atau membaca, kemudian mencernanya
entahlah...

setelah itu semua berlanjut
dan asmara pun datang
perlahan...

ternyata asamara menikamku
dalam diam
dan perlahan

asmara memporak-porandakan segalanya
tapi perbedaan menghanyutkan mimpi
entah kemana hilirnya

hingga kini sayatan asmara masih terasa
perih
mungkin ada larutan garam di sana
di hatiku

di hati yang sama ketika asmara dulu datang

Sabtu, 05 Februari 2011

Tentang kisah ini

Tentang kisah ini
sungguh begitu berat di pundakku
begitu juga di pundaknya

Bukan karena kami
Tapi karena perbedaan yang dibuat tak membahagiakan

Bukan memaksakan
hanya tak ingin melewatkan
manusia tidak tahu alur hidup
itu alasannya

jadi jika memungkinkan,
buatlah semua itu menjadi mungkin

jika tidak
buatlah sesal itu tak pernah ada

Sabtu, 29 Januari 2011

Sampai kapan semua kisah akan berakhir sama?
saya lelah
saya bosan
harapan-harapan selalu dipatahkan kenyataan

Saya ingin semua baik-baik saja
baik untuk semuanya
jika seperti ini
baik untuk mereka tapi bukan untuk saya
meski dalih itu untuk kebaikan saya

tidak bisakah jujur dengan perasaan sendiri?
saya hanya ingin jujur dengan hati saya
salahkah jika saya memperhatikan diri sendiri lebih?
saya lelah...saya jengah...

lalu apa?
saya tetap tidak berani berbuat apa-apa
lalu saya bisa apa?