Minggu, 26 September 2010

Aku ibunya....

Aku ibunya. Ku berikan materi cukup, kasih sayang cukup...namun sayang sekali meski dia adalah darah dagingku tapi kami diciptakan dengan kepribadian yg berbeda. Kemudian kesepakatan yang menjadi kuncinya tidak pernah kami temukan. Bukannya aku tak tahu jika tengah malam dia menangis diam-diam memeluk gulingnya. Bukan tidak ku nantikan dia bercerita, berkeluh kesah. selalu...dan selalu ku nantikan. Tapi dia tidak pernah berkeluh kesah tentang apapun. Entahlah, aku juga tidak mengerti. Bagaimana mungkin setiap malam dia menangis diam-diam, namun tidak pernah keluar sedikitpun keluhan dari bibirnya.

Hingga beberapa waktu kemudian aku harus menerima kenyataan bahwa dia tidak memilihku sebagai tempatnya berkeluh kesah. Dia lebih memilih orang lain, wanita lain, ataupun pria lain.
Sekian waktu coba ku pahami mengapa hal itu terjadi. Aku coba introspeksi diri. Mungkinkah aku yg terlalu kolot sehingga tidak memahami kehidupan anak sekarang? Ah..tapi rasanya tak mungkin. Kelahiranku hanya dua puluh tahun lebih cepat dari kelahirannya. Berbagai pertanyaan yang tidak pernah terjawab berlarian dalam benakku. Pertanyaan apakah dia baik-baik saja selalu tidak pernah ku temukan jawaban pasti dari bibirnya.

Sekali lagi kunyatakan bahwa aku ini ibunya. Namun sepertinya, aku ibu yang tidak tahu apa-apa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar