Sabtu, 25 September 2010

Surat

surat itu akhirnya terbaca ketika aku sudah berkemas, meski masih ada beberapa waktu lagi sebelum aku pergi meninggalkan hingar-bingar tempat ini.
ku buka perlahan.
surat ini ternyata darimu.

semoga aku belum terlambat...
semoga kamu juga belum terlambat untuk membaca suratku. meski hanya membaca dan tidak melakukan apa-apa. Tak apa. aku hanya ngin kamu tahu saja bahwa aku mengirimkan surat ini disaat-saat terakhir. Semoga aku belum terlambat.
kamu benar, ternyata kita tidak pernah memiliki apa-apa di dunia ini. waktupun hanya kita pinjam untuk merangkai kisah sebentar. sebentar dan samar. dan sebentar lagi kamu akan melipat surat ini kembali seperti kamu menutup ceritamu bersamaku. menutup buku harianmu yang berkisah tentang hari-hari yang terlewati. sungguh kita tidak pernah memiliki apapun. mungkin hanya kenangan. kenangan ketika kamu mengalungkan syal hangat ke leherku, membuatkan api ungun agar kita bisa menghangatkan diri bersama, menemaniku seharian keliling kota hanya untuk menikmati sore.
semoga aku belum terlambat untuk mengingatkan kisah itu padamu, yang sebentar lagi memiliki pagi yang berbeda, sore yang tidak sama, dan waktu yang mungkin tak akan terangkai seperti waktu itu.

semoga tidak terlambat untuk mengatakan ini semua.
meski ternyata memiliki akhir.

ku lipat suratmu seperti sedia kala.
ku masukkan ke dalam buku harianku yang juga terdapat gambar diammu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar