semua orang pasti pernah merasakan beberapa fase hubungan yang cukup menyita perhatian. entah perhatian orang lain atau perhatian si individu itu. ketika sudah akil balig, biasanya mulailah fase naksir-naksiran, curi-curi pandang hingga berlanjut ke cinta monyet. waktu mengalami cinta monyet itu pastinya nggak mau dong dibilang cinta monyet, tapi beberapa tahun fase itu berlalu, barulah iklas kalau fase itu disebut fase cinta monyet hehehehe.
setelah beberapa kali mengalami patah hati, barulah masuk fase berikutnya. fase ini ditandai dengan niat untuk mencari pasangan sehidup semati. "mau cari istri/ suami". biasanya sih niatnya seperti itu. koleksi, seleksi, resepsi, semboyannya sih seperti itu hehehe...bagi ku, fase inilah yang paling menggairahkan dan penuh tantangan. sensasi cari pacar, mempertahankan hubungan tuh memacu adrenalin banget.....menikah sih menyenangkan juga sepertinya tp tanggungjawabnya ampun deh...belum lagi kalau terus punya anak. bukan apa-apa, bayangin tanggungjawabnya yg segede gambreng....mana tahannnnnnnnn....
lebih enak sih nikah tapi punya anaknya entar-entar...ehmm...atau nggak usah punya anak aja ya? biar berasa pacaran terusssss....ehm....mungkin krn aku belum pernah ngrasain nikah, punya anak dll jadi ngomongnya begitu...tapi samapai sekarang sih aku belum tertarik buat hamil, melahirkan dan punya anak. kalau nikah??? hmmm...sepertinya seru juga....hahahahaha
Sabtu, 26 November 2011
Senin, 07 November 2011
Hatiku yang sedang tersenyum...
Saya tahu kamu bahagia
lewat barisan huruf yang kau jejerkan menjadi sebuah kalimat
lewat senyum yang kau perlihatkan dalam sebuah gambar diam
lewat ungkapan-ungkapan singkat
yang mewakili perasaanmu
saya tahu kamu bahagia,
bahagia yang kini hanya menjadi milikmu dan miliknya
bahagia yang dulu kau harap dapat kita rasakan bersama
seperti bahagiamu saat ini
saya tahu kamu bahagia.
doa-doamu terkabul
mukjizat yang tak kau sangka-sangka
dan harapan-harapan yang kini menjadi nyata
dan saya mengiringi kebahagianmu
dulu, doa-doa, mukjizat, dan harapan itu kamu katakan padaku
dan kini
ketika saya tahu semua menjadi nyata
percayalah, aku juga bahagia
*andai kamu dapat melihat hatiku yang sedang tersenyum
lewat barisan huruf yang kau jejerkan menjadi sebuah kalimat
lewat senyum yang kau perlihatkan dalam sebuah gambar diam
lewat ungkapan-ungkapan singkat
yang mewakili perasaanmu
saya tahu kamu bahagia,
bahagia yang kini hanya menjadi milikmu dan miliknya
bahagia yang dulu kau harap dapat kita rasakan bersama
seperti bahagiamu saat ini
saya tahu kamu bahagia.
doa-doamu terkabul
mukjizat yang tak kau sangka-sangka
dan harapan-harapan yang kini menjadi nyata
dan saya mengiringi kebahagianmu
dulu, doa-doa, mukjizat, dan harapan itu kamu katakan padaku
dan kini
ketika saya tahu semua menjadi nyata
percayalah, aku juga bahagia
*andai kamu dapat melihat hatiku yang sedang tersenyum
Rabu, 19 Oktober 2011
Rasanya......mungkin seperti patah hati
ketika seseorang bertanya apa obat patah hati paling mujarab?, aku selalu bilang kalau potong rambut adalah obat patah hati paling mujarab. Lalu, apakah kali ini aku harus potong rambut juga? padahal aku tidak sedang patah hati....Lho??? Lalu???
patah hati sih tidak, tapi rasanya seperti sesak ketika patah hati. untuk saat ini sih. tapi entah untuk esok hari. ehm....anggap saja aku telah menjalin hubungan selama satu tahun lebih dan saat ini hubungan itu sama seperti hubunganku dengan teman-teman yang lain. Dulu istimewa dan sekarang tidak ada yang istimewa. Yah...gimana sih rasanya kalau dulu pernah begitu dekat tapi sekarang menjadi biasa saja...yah...seperti itulah...
sudah sih...alasan sudah dikemukakan. Tapi banyak yg berspekulasi yang justru bukan dari aku. pikiranku hanya sederhana, ketika ada pertemuan di situ juga ada perpisahan. so simple kan...tapi entahlah...spekulasi ini dan itu sih sebenarnya masuk akal juga, tapi apa iya aku maksa???
ketika ditolak, apakah harus maksa,"tolong dong jangan ditolak...". masa' iya ngemis2 gitu???
so, apapun yg terjadi....hubungan ini memang bukan hubungan percintaan, tapi perpisahan ini rasanya seperti putus cinta. dimana-mana putus cinta itu rasanya sama. dan aku nggak harus bilang gimana rasanya kan????
ehm....terima kasih telah mencintai, dan bersamaku....
patah hati sih tidak, tapi rasanya seperti sesak ketika patah hati. untuk saat ini sih. tapi entah untuk esok hari. ehm....anggap saja aku telah menjalin hubungan selama satu tahun lebih dan saat ini hubungan itu sama seperti hubunganku dengan teman-teman yang lain. Dulu istimewa dan sekarang tidak ada yang istimewa. Yah...gimana sih rasanya kalau dulu pernah begitu dekat tapi sekarang menjadi biasa saja...yah...seperti itulah...
sudah sih...alasan sudah dikemukakan. Tapi banyak yg berspekulasi yang justru bukan dari aku. pikiranku hanya sederhana, ketika ada pertemuan di situ juga ada perpisahan. so simple kan...tapi entahlah...spekulasi ini dan itu sih sebenarnya masuk akal juga, tapi apa iya aku maksa???
ketika ditolak, apakah harus maksa,"tolong dong jangan ditolak...". masa' iya ngemis2 gitu???
so, apapun yg terjadi....hubungan ini memang bukan hubungan percintaan, tapi perpisahan ini rasanya seperti putus cinta. dimana-mana putus cinta itu rasanya sama. dan aku nggak harus bilang gimana rasanya kan????
ehm....terima kasih telah mencintai, dan bersamaku....
Sabtu, 15 Oktober 2011
Tahu nggak????
"Tau nggak,diam-diam aku menatapmu,walau dari jauh. Diam-diam aku juga memahamimu,walau dalam diamku"
"Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?"
"Buat apa?"
"Ya biar aku tahu."
"Sengaja kok. Aku akan bilang seperti ini setelah aku mengerti kamu"
"Maksudnya?"
"Ya...tahu kamu itu orangnya seperti apa. Aku nggak mau dibilang ngerayu"
"Terus sekarang ini namanya apa?"
"Ehm...apa ya?. Terserah kamu sih mau beranggapan aja. Aku cuma mau jujur aja"
"Udah, itu aja?"
"Memangnya kamu mau yang lain?"
"Yang lain apa maksudnya?"
"Lho, mana ku tahu. Maksud kamu bilang 'udah aja' tadi apa?"
"Maksudku, udah...kamu cuma pengen bilang itu aja?"
"Iya"
"Yang lainnya?"
"Belum tahu. Memangnya penting ya?"
"Nggak tahu juga"
Mereka akhirnya mampu mencairkan suasana. Mengubah bisu bertahun-tahun terjadi menjadi ceria.
Ceria yang hanya mereka tahu.
Yang lainnya? tak perlu dijawab.
Biarkan semua menjadi warna-warni yang hanya mereka sendiri yang tahu cara mewarnainya...
"Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?"
"Buat apa?"
"Ya biar aku tahu."
"Sengaja kok. Aku akan bilang seperti ini setelah aku mengerti kamu"
"Maksudnya?"
"Ya...tahu kamu itu orangnya seperti apa. Aku nggak mau dibilang ngerayu"
"Terus sekarang ini namanya apa?"
"Ehm...apa ya?. Terserah kamu sih mau beranggapan aja. Aku cuma mau jujur aja"
"Udah, itu aja?"
"Memangnya kamu mau yang lain?"
"Yang lain apa maksudnya?"
"Lho, mana ku tahu. Maksud kamu bilang 'udah aja' tadi apa?"
"Maksudku, udah...kamu cuma pengen bilang itu aja?"
"Iya"
"Yang lainnya?"
"Belum tahu. Memangnya penting ya?"
"Nggak tahu juga"
Mereka akhirnya mampu mencairkan suasana. Mengubah bisu bertahun-tahun terjadi menjadi ceria.
Ceria yang hanya mereka tahu.
Yang lainnya? tak perlu dijawab.
Biarkan semua menjadi warna-warni yang hanya mereka sendiri yang tahu cara mewarnainya...
Tentang dia di sana
Tentang dia di sana,
semoga baik-baik saja.
akh....pasti begitu adanya
karena telah berada di tempat istimewa.
tempat tanpa duka,
tanpa tipu muslihat dunia,
tanpa senyum yang hanya di muka,
tanpa sesuatu yang tak lagi fana.
apapun yang terjadi di sini
mungkin dia mengetahui
tentang rindu
dan doa
yang terurai bagai nada
tentang dia di sana
tentang kenangan sepanjang masa
meski raga
tak tampak oleh mata...
semoga baik-baik saja.
akh....pasti begitu adanya
karena telah berada di tempat istimewa.
tempat tanpa duka,
tanpa tipu muslihat dunia,
tanpa senyum yang hanya di muka,
tanpa sesuatu yang tak lagi fana.
apapun yang terjadi di sini
mungkin dia mengetahui
tentang rindu
dan doa
yang terurai bagai nada
tentang dia di sana
tentang kenangan sepanjang masa
meski raga
tak tampak oleh mata...
Amplop berwarna Jingga
kadang, aku juga ingin normal seperti mereka.
tertawa ketika bahagia dan menangis karena lara.
menjalani kehidupan bagaikan garis lurus yang tak putus.
menerima takdir seperti jalan beraspal mulus,
namun aku memilih mabuk, ketika semua waras
mabuk akan kegilaan hidupku sendiri
lebih memilih berbelok ketika semua jalan terus
kini aku terlanjur tak serupa
dan pasti tak pernah sama.
tawaku belum tentu bahagiaku, begitu pula tangisku
aku memilih menikmati kegilaan ini dalam waktu lama
menjalani semua yang tak semestinya
***
aku kemudian melipat lembaran ini. menyimpannya
dalam sebuah amplop berwarna jingga.
kemudian membawanya ke sebuah semak-semak di dekat danau kecil
yang di situ juga ada banyak amplop
berwarna jingga
tertawa ketika bahagia dan menangis karena lara.
menjalani kehidupan bagaikan garis lurus yang tak putus.
menerima takdir seperti jalan beraspal mulus,
namun aku memilih mabuk, ketika semua waras
mabuk akan kegilaan hidupku sendiri
lebih memilih berbelok ketika semua jalan terus
kini aku terlanjur tak serupa
dan pasti tak pernah sama.
tawaku belum tentu bahagiaku, begitu pula tangisku
aku memilih menikmati kegilaan ini dalam waktu lama
menjalani semua yang tak semestinya
***
aku kemudian melipat lembaran ini. menyimpannya
dalam sebuah amplop berwarna jingga.
kemudian membawanya ke sebuah semak-semak di dekat danau kecil
yang di situ juga ada banyak amplop
berwarna jingga
Kita dalam satu hati
dalam rentang waktu yang tak terduga,
kita berjumpa
pada akhirnya kita terpisah
jarak dan waktu selalu membuat jengah
dalam rentang waktu yang telah berlalu,
segala yang telah berlalu adalah rindu
setiap nafas yang berhasil dihembuskan
adalah perjalanan
dalam waktu ini,
kita berada di sini
saat kata terwakilkan oleh jari yang menari
saat setiap sendau tawa...
kita berjumpa
pada akhirnya kita terpisah
jarak dan waktu selalu membuat jengah
dalam rentang waktu yang telah berlalu,
segala yang telah berlalu adalah rindu
setiap nafas yang berhasil dihembuskan
adalah perjalanan
dalam waktu ini,
kita berada di sini
saat kata terwakilkan oleh jari yang menari
saat setiap sendau tawa...
Langganan:
Postingan (Atom)
